Ketua Dewan Ekonomi Peternakan Jawa Tengah, Hardyat Heru Nugroho mengatakan naiknya harga elpiji 12 Kg membuat rencana para peternak untuk mendatangkan 2 juta anak ayam atau day old chick (DOC) petelur dan pedaging ditunda sejak tanggal 2 Januari lalu. Kondisi ini membuat ribuan peternak yang ada di Banyumas berhenti beroperasi karena tidak bisa membudidayakan DOC.
"Untuk pengaturan suhu, setidaknya dibutuhkan sekitar 81 tabung gas elpiji tiap per 10 ribu DOC. Ini sangat menyiksa peternak, apalagi saat ini 2 juta DOC ditunda pengirimannya karena naiknya harga gas elpiji. Padahal, 2 juta DOC tersebut disalurkan kepada ribuan peternakan ayam yang ada di Banyumas," kata Heru, Senin (6/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat ini saja harga pakan impor untuk ayam sudah naik, bahkan harga konsentrat naik dari semula Rp 4.000 menjadi Rp 5.600. Selain itu, biaya produksi sudah tidak sebanding dengan harga jual," jelasnya.
Saat ini harga telor Rp 15 ribu per Kg dan tidak sesuai dengan ongkos produksi Rp 16.500. Selain itu, harga ayam pedaging juga cenderung turun.
"Jika tidak diantisipasi pemerintah, bisa terjadi kekosongan stok ayam dipasaran karena untuk panen saja butuh waktu sekitar 35 hari- 40 hari," jelasnya.
Namun kabar baik bagi pengguna elpiji 12 Kg, siang ini pemerintah dan PT Pertamina (Persero) sepakat menurunkan harga elpiji 12 kg. Jadi harga elpiji nanti akan turun dari Rp 117.708 menjadi Rp 82.200 per tabung mulai besok pukul 00.00.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengatakan, lewat keputusan ini, berarti harga elpiji 12 kg menjadi hanya naik Rp 1.000/kg, dari sebelumnya naik Rp 3.959/kg.
"Kalau naik Rp 1.000/kg, kasarnya kerugian Pertamina sekitar Rp 6,5 triliun," kata Dahlan di kantor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (6/1/2013).
(arb/hen)











































