Kata Ahok Soal Naiknya Elpiji 12 Kg: Nggak Masuk Akal!

Kata Ahok Soal Naiknya Elpiji 12 Kg: Nggak Masuk Akal!

Mulya Nurbilkis - detikFinance
Senin, 06 Jan 2014 13:45 WIB
Kata Ahok Soal Naiknya Elpiji 12 Kg: Nggak Masuk Akal!
Jakarta -

Penolakan naiknya harga gas elpiji 12 kg terus diteriakkan berbagai kalangan. Kali ini, Wakil Gubernur DKI Basuki T Purnama (Ahok) yang bersuara lantang menolak kenaikan tersebut.

"Nanti saya dibilang mengkritik. Tapi emang gue kritik Pertamina. Nggak, saya nggak setuju. Nggak masuk akal menurutku alasannya ketika dia rugi, gas yang dikorbanin. Sekarang ribut orang gara-gara gas," kata Ahok.

"Kalau kamu cabut (subsidi) BBM, belum tentu semua orang ribut. Orang kampung di luar Jakarta banyak pakai BBM mahal. Gas yang susah. Kita sudah setengah mati mendorong orang pindah dari minyak ke gas, korban banyak yang meledak-meledak pertama. Sekarang orang sudah berani untuk pakai gas. Kenapa nggak disubsidi sih gasnya?," imbuh Ahok yang ditemui saat berada di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakpus, Senin (6/1/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengusulkan seharusnya pemerintah menghapus subsidi BBM yang tidak terlalu berpengaruh pada masyarakat menengah ke bawah. Menurutnya, gas saat ini sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat. Karena itu akan sangat menyulitkan warga ketika kelangkaan terjadi akibat kenaikan harga tersebut.

Usulan penghapusan BBM tersebut ia lontarkan karena memahami kondisi ekonomi dunia saat ini memang dilematis. Keinginan untuk menyejahterahkan warga Indonesia dengan berbagai subsidi kian susah ditempuh oleh pemerintah pusat.

"Lifting minyak turun, dolar naik, kalau kita pilih murah, semua kita pilih murah. Tapi kalau nggak bisa pilih, APBN kita bahaya. Subsidi BBM yang dicabut dari semua mobil pribadi, itu langkah pertama pak Gubernur bilang. Daripada sekarang subsidi nggak dicabut, gas yang dicabut," lanjutnya.

Ia malah berpikir alasan kenapa gas tidak disubsidi karena penyelewengan gas sulit dilakukan. Tak hanya itu, ia kembali mengusulkan penghapusan RFID sebagai langkah taktis untuk mengalihkan subsidi pemerintah dari BBM ke gas.

"Saya lama-lama mikir, kenapa gas nggak disubsidi? Mungkin nyolongnya susah karena musti pakai mesin. Kalau BBM disubsidi bisa dialihkan mudah," ungkap poltisi Gerindra ini.

Tak hanya itu, ia kembali mengutarakan usulan penghapusan RFID yang menurutnya tak efisien. Dana tersebut dinilainya lebih efisien digunakan untuk subsidi gas untuk rakyat miskin.

"Ini mungkin gara-gara RFID kan? Ngapain ngabisin uang buat RFID? Kalau Pertamina nggak ada duit, tapi pasang ke semua mobil untuk subsidi. Nggak masuk akal menurutku alasannya. Ketika dia rugi, gas yang dikorbanin. Kalau kamu rugi kenapa nggak cabut RFID? RFID hanya untuk kendaraan umum? Jadi kendaran pribadi tidak boleh pakai BBM semua. Itu lebih masuk akal," pungkasnya.

Seperti diketahui, Pertamina memberlakukan kenaikan harga elpiji 12 kg pada 1 Januari 2014 pukul 00.00 WIB dari Rp 70.200/tabung jadi Rp 117.708/tabung. Namun Pertamina mengaku masih akan rugi lebih dari Rp 2 triliun per tahun karena menjual elpiji 12 kg.

Namun kenaikan tersebut membuat kekisruhan sampai akhirnya Presiden SBY turun tangan. Akhirnya pemerintah sepakat menurunkan harga elpiji 12 kg. Jadi harga elpiji nanti akan turun dari Rp 117.708 menjadi Rp 82.200 per tabung mulai besok pukul 00.00.

(bil/dru)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads