Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan itu bisa jadi pilihan Pertamina. Apalagi ketika perusahaan seakan terjepit dalam kebijakannya. Belum lagi, elpiji 12 kg tidak disubsidi oleh pemerintah.
"Bisa ditutup (bisnis). Itu yang berat untuk Pertamina, nggak mungkin kan disetop. Karena nggak ada yang produksi elpiji 12 kg," ujar Bambang di kantornya, Jakarta, Selasa (7/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau nggak, harus 3 kg dengan subsidi. Nggak bisa. Nanti subsidinya naik," sebutnya.
Pilihan lain untuk Pertamina adalah dengan melakukan subsidi silang dari bisnis lain. Akan tetapi, dalam sebuah perusahaan, ini tidak bisa terjadi selama bertahun-tahun.
"Misalnya pengusaha produksi 6 barang, 5 untung 1 rugi. Kemungkinan lainnya bisa subsidi silang yang untuk tutup yang rugi," paparnya.
(mkj/dnl)










































