Kurangi Penggunaan Solar, PLN Gandeng 2 'Raksasa' Sawit

Kurangi Penggunaan Solar, PLN Gandeng 2 'Raksasa' Sawit

- detikFinance
Senin, 20 Jan 2014 14:27 WIB
Kurangi Penggunaan Solar, PLN Gandeng 2 Raksasa Sawit
Jakarta - PT PLN (Persero) menggandeng PT Smart Tbk dan PT Wilmar Nabati Indonesia dalam rangka mengurangi penggunaan BBM solar untuk pembangkit PLN. Kedua perusahaan sawit itu berkomitmen memasok bahan bakar nabati (BBN) pure palm oil (PPO) atau biodiesel dari minyak kelapa sawit.

Penandatanganaan kerjasama berlangsung di Kantor Pusat PLN, Senin (20/1/2014) Jakarta Selatan, dihadiri oleh Direktur Utama PT PLN Nur Pamudji, Chairmain PT Smart Tbk Franky Widjaja, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi dan Wakil Presiden Direktur Wilmar Nabati Indonesia Erik Tjia.

"Pemakaian CPO pengganti bahan bakar fosil dibandingkan subsidi BBM (solar) ini akan lebih hemat," kata Nur Pamudji.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan, latar belakang kebijakan PLN ini untuk mendukung upaya pemerintah menekan defisit neraca pembayaran dan menekan penguatan dolar. Selama ini impor BBM termasuk solar yang tinggi telah membuat neraca perdagangan Indonesia defisit.

"PT Smart Tbk akan memasok sebanyak 3.320 metrik ton PPO per tahun untuk pembangkit listrik PLTD di Sumatera Utara," katanya.

Nantinya PPO akan digunakan oleh PLN untuk menggerakan pembangkit mesin tenaga diesel milik PLN tanpa ada campuran dengan bahan bakar jenis lain. Pemerintah dan kalangan industri memperkirakan peningkatan pemanfaatan BBN untuk energi dan non energi akan mendorong penyerapan CPO 3,5 juta ton per tahun.

"PLN sudah menggunakan PPO sudah cukup lama pada 2007 di Lampung di PLTD Talang Padang, PLN pernah memulai pengembangan tenaga listrik tenaga nabati waktu CPO masih murah US$ 400/ton," katanya.

Terkait nilai kontrak kerjasama ini berlangsung setahun senilai Rp 8 miliar untuk 7 lokasi pembangkit skala kecil yang selama ini memakai diesel. Kerjasama yang ditandatangani hari ini hanya untuk pembangkit di 3 lokasi yaitu di Medan, Riau, dan Kalimantan Barat.

"Mungkin tak bisa 100% PPO, tapi mungkin sampai 40% yang pembangkit BBM fosil. Pembangkit kecil bisa sampai 90% PPO untuk pulau-pulau kecil pakai diesel," katanya.

(hen/abc)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads