Chairmain PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMART/SMAR) Franky Widjaja mendukung upaya PT PLN (Persero) mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) solar, dan menggantinya dengan bahan bakar nabati (BBN). Awal tahun ini, program tersebut mulai digulirkan bersamaan pergantian tahun baru imlek 2014 (tahun kuda).
PLN melakukan perjanjian jual beli minyak nabati jenisΒ Pure Palm Oil (PPO) oleh PLN dengan 3 perusahaan besar minyak sawit yaitu SMART, PT Wilmar Nabati Indonesia dan PT Wilmar Cahaya Indonesia. Tahun ini pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) milik PLN akan segera menggunakan bahan bakar nabati, salah satunya PPO.
"Saya rasa dengan adanya kerjasama ini devisa kita bisa stabil. Ini tahun kuda, tahun kuda horse power-nya besar semoga apa yang dicanangkan pemerintah dan PLN membuahkan hasil," katanya di kantor PLN, Senin (20/1/2014)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Italia kami ada investasi dengan pembakaran energi CPO, semoga yang dicitakan PLN bisa cepat terwujud, dan memberikan konstribusi terhadap negara termasuk terhadap perubaan iklim yang dirasa mengkhawatrkan juga sekaligus menambah lapangan pekerjaan," katanya.
Franky berharap dengan makin banyaknya penggunaan CPO di dalam negeri termasuk untuk pembangkit listrik maka akan signifikan menciptakan lapangan pekerjaan baru di Indonesia. "Kita tak perlu lagi mengekspor TKI kita ke Malaysia karena perlakuan tak baik," katanya.
Menurut Dirut PLN, Nur pamudji, PLN telah menggunakan bahan bakar nabati sejak tahun 2007 dengan melakukan eksperimen pada PLTG Talang Padang di Lampung.
PLN akan mengarahkan untuk membangun CPO engine untuk melistriki daerah-daerah pelosok yang berada di remote area, seperti pulau-pulau di Maluku, Mentawai, Nias, Simeuleu, NTT, Papua, dan lainnya.
Kerjasama jual beli PPO untuk pembangkit diesel yang berlaku untuk satu tahun ini, diklaim bisa menghemat pengeluaran PLN hingga 15% dibanding menggunakan solar.
PPO sebanyak 6.720 ton akan dipasok oleh SMART PPO ke Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Titi Kuning di Medan dengan volume 3.320 ton, kemudian oleh PT Wilmar Nabati Indonesia ke PLTD Bagan Besar dan PLTD Bagan Siapiapi di Dumai dengan volume 1.250 ton, dan oleh PT Wilmar Cahaya Indonesia ke PLTD Sudirman, PLTD Sambas, PLTD Menyurai Sintang, PLTD Semboja Sanggau di Kalimantan Barat dengan volume 2.150 Ton.
Selain bisa mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) oleh PLN, penggunaan PPO ini akan memberikan keuntungan lainnya, seperti bisa menghemat devisa negara karena mengurangi impor, mampu meningkatkan ketahanan energi nasional, lebih ramah lingkungan karena bahan bakar nabati itu adalah sumber energi yang terbarukan.
(hen/dnl)











































