Industri dan pembangkit listrik di Medan kekurangan pasokan gas. Anggota Komite Badan Pengatur Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Ibrahim Hasyim mengatakan, krisis tersebut akan berakhir akhir tahun ini.
Berakhirnya krisis gas di Medan karena sudah selesainya pembangunan pipa transmisi gas bumi dari Arun ke Belawan, diperkirakan selesainya proyek pembangunan pipa tersebut pada akhir tahun 2014.
"Diam-diam pembangunan pipa gas ini terus dikebut, dan ternyata progresnya ada, akhir tahun selesai. Minggu depan saya bersama Kementerian ESDM akan mengecek progres proyek ini," ujarnya.
Menurut Ibrahim, cepatnya progres pembangunan pipa transmisi gas Arun ke Belawan ini karena andil besar dari Menteri BUMN Dahlan Iskan.
"Kita juga terima kasih ke Pak Dahlan, andilnya besar sekali, karena awalnya kita bingung gas dari Arun dibawa ke Belawan pakai apa, maksudnya pipanya mau dipasang kemana, kalau jalur kereta api sulit, lewat pemukiman warga apa lagi, sulit karena pembebasan lahan dan sebagainya. Lalu Pak Dahlan usulkan lewat perkebunan milik PTPN saja jalur pipanya, alhamdulillah tidak ada masalah, jadi cepat ini proyek selesainya," ungkapnya.
Ibrahim menambahkan, Arun akan menjadi terminal penampungan gas, sehingga kedepannya industri, PLN, hingga rumah tangga bisa menikmati gas bumi yang lebih murah dan bersih.
"Arun kan saat ini masih produksi gas, tapi lambat laun akan turun gasnya, makanya akan dijadikan terminal gas sangat besar di sana olah Pertamina, nantinya gas akan dipasok dari sana ke Medan, jadi industri, pembangkit listrik dan rumah tangga akan menikmati gas yang cukup," tutupnya.
Seperti diketahui, dalam data BPS, tahun lalu negara tujuan ekspor gas cukup beragam. Paling besar adalah ekspor gas ke Jepang dengan total selama 2013 sebesar 7,3 juta ton atau US$ 6,5 miliar. Kemudian adalah Korea Selatan dengan 6,1 juta ton atau US$ 4,2 miliar.
Selanjutnya adalah Singapura 5,5 juta ton atau US$ 4,7 miliar, Taiwan 2 juta ton atau US$ 1,7 miliar, China 2,6 juta ton atau US$ 457,3 juta, dan Malaysia 1,1 juta ton atau US$ 426,03 juta.
(rrd/dnl)











































