Bahkan meskipun sumur-sumur minyak dikuras dengan metode enhanced oil recovery (EOR), cadangan minyak yang bisa diangkat hanya tersisa untuk 10 tahun.
"Cadangan minyak Indonesia yang bisa diangkat dengan metode enhanced oil recovery itu hanya tersisa 10 tahun lagi," ungkap Ketua Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKKPII) IATMI Nanang Untung, pada acara diskusi perminyakan di kantor pusat Pertamina, Jakarta, Kamis (13/2/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keuangan negara akan menerima beban yang cukup berat karena impor minyak terus untuk kebutuhan kilang," sebutnya.
Nanang mengakui, para insinyur harus mengambil peran dalam persoalan ini. Untuk itu diusulkan agar perminyakan beralih ke Pemulihan Minyak Percontohan Peningkatan (EOR). Ini dinilai lebih mampu untuk mempertahankan produksi minyak seperti saat eksplorasi.
"Akan tetapi masih perlu kerjasama SKK Migas, KKKS, Pertamina, dan lembaga riset dan akademisi agar terjalin dengan lebih baik lagi," ujarnya.
Ada sejumlah metode EOR yang masih butuh riset, agar target produksi minyak dapat terus mencapai target. Ada beberapa EOR yang bisa dijadikan contoh untuk diaplikasikan di dalam negeri.
"Dengan demikian kita bisa meningkatkan lifting atau produksi tanpa membebani cost recovery, mengandalkan impor, dan penerimaan hasil migas bertambah," imbuhnya.
(mkj/dnl)











































