Pengembangan biodiesel saat ini sudah berjalan dalam program yang tertuang di 4 paket kebijakan ekonomi pemerintah di 2013 lalu untuk menekan impor BBM. Kebijakan itu BBM Solar wajib dicampur 10% biodiesel.
Sayangnya, untuk bioetanol untuk campuran premium belum ada terobosan yang berarti, padahal konsumsi BBM premium jauh lebih besar dari solar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rida mengakui pengembangan bioetanol masih jalan di tempat. Salah satu kendalanya adalah harga jual pengembangan ini belum menarik untuk produsen.
"Kenapa bioetanol belum masuk karena barangnya belum ada, bukan berarti nggak ada produksi bioetanol, tapi ada pun produksinya belum cukup untuk dicampurkan," lanjut Rida.
Kendala lain yang dihadapi adalah persoalan bahan baku. Yang paling terkenal untuk menjadi bahan baku bioetanol adalah molase ekstrak yang didapat. Namun demikian, kembali pengembangan ini terbentur dengan konsumsi tebu sebagai bahan baku gula atau sumber pangan.
"Tebu itu masih kurang karena gula saja kita masih impor. Beda dengan CPO yang sudah mendunia. Dari situ kita bisa menilai tanamannya juga kurang karena gulanya juga kurang, gulanya mash impor berarti bisa jadi lahannya kurang atau pabriknya kurang atau kedua-duanya," papar Rida.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Gamal Nasir mengatakan, kebutuhan impor gula untuk rafinasi atau kebutuhan rumah tangga masih diimpor. Ditambah lahan tebu yang masih kurang sekitar 300.000 hektar, menjadikan pengembangan bioetanol dan pemenuhan kebutuhan konsumsi gula menjadi terkendala.
"Masalah tebu ini kita kan masih kekurangan gula, untuk mamin (makanan dan minuman) 3 juta ton. Kalau rumah tangga kita hampir bisa memenuhi lah. Produksi (gula konsumsi) kita 2,5-2,6 juta ton. Kebutuhan 2,7-2,8 juta ton," kata Gamal.
(zul/hen)











































