Pertamina: Kita Suka Impor BBM, Tapi Itu Terpaksa

Pertamina: Kita Suka Impor BBM, Tapi Itu Terpaksa

Rista Rama Dhany - detikFinance
Kamis, 13 Feb 2014 11:58 WIB
Pertamina: Kita Suka Impor BBM, Tapi Itu Terpaksa
Batam - PT Pertamina (Persero) mengakui memang rutin mengimpor minyak mentah dan BBm tiap hari. Bukan karena impor membuat perusahaan lebih untung, tapi impor dilakukan karena terpaksa.

"Kita suka impor BBM, tapi itu karena terpaksa," kata Senior Vice President Marketing and Distribution Pertamina Suhartoko saat ditemui di Batam, Kamis (13/2/2014).

Suhartoko mengatakan, Pertamina terpaksa impor karena kebutuhan BBM nasional sangat banyak. Sementara produksi minyak dan BBM di dalam negeri tidak sanggup memenuhi kebutuhan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kebutuhan BBM kita mencapai 1,5 juta barel per hari, sementara produksi minyak kita di bawah 900.000 barel per hari. Kalau nggak impor dari mana?" ungkapnya.

Seperti diketahui, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, sepanjang 2013 lalu, Indonesia mengimpor hasil minyak atau BBM dengan total US$ 28,56 miliar atau sekitar Rp 285 triliun, berjumlah 29,6 juta ton. Dari jumlah itu, nilai impor BBM dari Singapura adalah US$ 15,145 miliar atau sekitar Rp 151 triliun. Jumlah BBM yang diimpor Indonesia dari Singapura mencapai 29,6 juta ton.

Selain Singapura, berikut negara-negara yang BBM-nya sering dibeli oleh Indonesia sepanjang 2013:

  • Malaysia, dengan niai US$ 6,4 miliar atau Rp 64 triliun. Jumlahnya 6,7 juta ton
  • Korea Selatan, dengan nilai US$ 2,53 miliar atau sekitar Rp 25 triliun. Jumlahnya 2,7 juta ton
  • Kuwait, dengan nilai US$ 906 juta atau sekitar Rp 9 triliun. Jumlahnya 1,07 juta ton
  • Arab Saudi, dengan nilai US$ 709 juta atau sekitar Rp 7 triliun. Jumlahnya 735 ribu ton
  • Qatar, dengan nilai US$ 538 juta atau sekitar Rp 5 triliun. Jumlahnya 562 ribu ton
  • Uni Emirat Arab, dengan nilai US$ 367 juta atau sekitar Rp 3 triliun. Jumlahnya 371 ribu ton
  • Taiwan, dengan nilai US$ 312 juta atau sekitar Rp 3 triliun. Jumlahnya 310 ribu ton
  • Rusia, dengan nilai US$ 261 juta atau sekitar Rp 2 triliun lebih. Jumlahnya 277 ribu ton
  • China, dengan nilai US$ 257 juta atau sekitar Rp 2 triliun lebih. Jumlahnya 245 ribu ton
  • Sisanya dari negara lain, dengan nilai US$ 1,05 miliar atau Rp 10 triliun lebih. Jumlahnya 1,01 juta ton
(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads