Sejak bulan September 2013 lalu sudah ada 4 paket kebijakan ekonomi pemerintah termasuk kewajiban penggunaan biodiesel. Dampaknya pemerintah berhasil menghemat devisa negara senilai US$ 429 juta.
"Waktu itu percepatannya dimulai 1 September, paket ini tujuannya cuma 1. Menghemat devisa. Penggunaannya terserap sekitar 551.101 KL (kiloliter) itu dalam negeri," kata Direktur Jenderal Energi baru dan Terbarukan Kementerian ESDM, Rida Mulyana saat ditemui detikFinance di kantornya, Jalan Pegangsaan, Jakarta, Rabu (12/2/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, potensi kapasitas produksi pabrik biodiesel di Indonesia sudah mencapai 5,6 juta KL, sedangkan yang aktif sebesar 4,6 juta KL. Dari angka 4,6 juta KL tersebut hanya 2,6 juta yang diproduksi dan digunakan untuk produk dalam negeri dan ekspor ke wilayah Eropa.
"Tahun ini kita targetkan makin besar, yang make makin luas. Target tahun ini 4,02 juta KL setara dengan US$ 3 miliar lebih hemat," jelas Rida.
Sementara itu, Direktur Bio Energi Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan, dengan dicampurkannya 10% biodiesel ke BBM solar, negara tentu menekan 10% impor BBM.
Saat ini, yang menggunakan biodiesel masih didominasi sektor transportasi sebesar 60%. Sisanya digunakan untuk keperluan industri dan pembangkit listrik.
(zul/hen)











































