"Dikatakan dalam UU Migas bahwa pemerintah harus menjamin BBM. Artinya apa pun harus kita lakukan untuk menjamin itu. Crude (minyak mentah) misalnya kita datangkan dari luar," kata Dirjen Migas Edy Hermantoro dalam sambutannya pada pada acara diskusi perminyakan, di kantor pusat Pertamina, Jakarta, Kamis (13/2/2014).
Saat ini, produksi minyak berada pada kisaran 820 ribu barel per hari, sementara kebutuhannya melebihi dari produksi. Tingginya kebutuhan disebabkan oleh ekonomi yang terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, Edy berharap produksi minyak dapat kembali naik. Sehingga tidak membutuhkan impor. Salah satu caranya adalah pengalihan metode eksplorasi ke Pemulihan Minyak Percontohan Peningkatan (EOR/enchanced oil recovery).
"Jadi kita harapkan lapangan yang ada bisa existing kembali. Sekarang tinggal EOR ini. Dari dulu kok belom jalan. Apa yang mesti kita telurkan. saya yakin bukan teknologi saja, hanya manajemen seperti apa," jelasnya.
Akan tetapi, Edy mengaku ini bukan persoalan mudah. Banyak komponen yang harus terlibat. Mulai dari keuangan, industri, hingga akademisi. Sebab akan membahas banyak hal. Seperti pembiayaan dan riset.
"Kalau bisa disinergikan apa yang diperlukan, kita siap bekerja bersama untuk wujudkan peningkatan produksi dari sisi EOR," kata Edy.
(mkj/dnl)











































