Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Ali Mundakir mengatakan, masalah terhambatnya pemasangan RFID ini salah satunya karena PT Inti ingin mengubah isi kontrak, agar nilai pengembalian investasi diubah dari Rp 18 per liter menjadi Rp 21 per liter.
"Itu masih kita kaji apakah hal tersebut dimungkinkan, karena ini sudah tender kan ya, saat ini masih diserahkan ke BPKP," ucap Ali ditemui di Restoran Midori, Kebun Sirih, Jumat (21/2/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kontrak tidak bisa diubah, maka kita minta Inti tetap tunduk pada kontrak, dalam kontrak kan ada hak dan kewajiban, kalau INTI penuhi kewajibannya kita penuhi haknya, kalau tidak tentu ada konsekuensinya," tegas Ali.
MEski seolah lambat dan hari demi hari minat masyarakat terhadap pemasangan RFID ini terus turun, Ali mengatakan, program ini sangat penting demi mengendalikan konsumsi BBM bersubsidi.
"RFID itu penting, manfaatnya banyak, terutama data penyaluran dan dapat menghindarkan penyalahgunaan BBM subsidi," ujar tutup Ali.
Seperti diketahui, minimnya pemasangan RFID ini khususnya di Jakarta, karena PT Inti masih belum berani mengenjot program pemasangan RIFD. Pasalnya nilai kontrak Rp 18 per liter dianggap terlalu rendah dan jika diteruskan akan membuat PT Inti merugi, saat ini Inti telah mengajukan permohonan untuk mengubah nilai kontrak dari Rp 18 per liter menjadi Rp 21 per liter.
(rrd/zul)











































