Hal ini disampaikan Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo saat diskusi energi di Kampus UI Salemba, Jakarta, Rabu (26/2/2014).
"Cari gas nggak gampang," kata Susilo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lokasi pengeboran offshore ini, umumnya terletak sekitar 2.000 meter hingga 3.000 meter di bawah permukaan laut.
"Minimal US$ 30 juta atau Rp 300 miliar untuk ngebor di daratan. Nggak ada wassalam. Ngebor di laut, paling murah US$ 100 juta atau Rp 1 triliiun. Paling mahal US$ 212 juta di Selat Makassar," jelasnya.
Investasi yang tinggi ini, bisa saja hilang ketika sumur gas yang dieksplorasi tidak menghasilkan gas sesuai target, atau bahkan tidak menghasilkan gas. Akibatnya perusahaan migas bisa menanggung rugi super besar.
"Pernah dibor belasan titik dengan nilai US$ 1,6 miliar. Itu amblas karena nggak ada gas. Mau dibiayai APBN? Habis kita," jelasnya.
Menurutnya biaya untuk pengeboran yang mahal dan berbeda tersebut, berdampak terhadap harga gas. Akibatnya harga gas dari setiap sumur berbeda-beda.
"Harga gas, tergantung biaya di suatu tempat. Teman-teman (trader) ingin harga murah. Nggak ada," terangnya.
(feb/dnl)











































