Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, perusahaan yang belum membangun smelter seperti Freeport atau Newmont harus meyakinkan pemerintah, bahwa mereka bisa merampungkan pembangunan smelter dalam kurun waktu 3 tahun.
"Ini tidak berlaku sama Freeport saja, tapi semua perusahaan. Kalau bisa yakinkan pemerintah bahwa dalam 3 tahun smelter terbangun, persyaratan diberikan pemerintah, maka dimungkinkan meminta diskon dari bea keluar," kata Hidayat di sela acara Pelantikan Eselon I Kementerian Perindustrian (Kemenperin), di kantor Kemeperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (3/3/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hidayat mengatakan, ini merupakan inisiasi pemerintah untuk mendesak perusahaan-perusahaan itu membangun smelter segera. Agar ekspor tambang mentah bisa ditekan.
"Bea keluar yang dikeluarkan pemerintah itu adalah untuk alat untuk memaksa mereka membangun smelter," ungkapnya.
Bea keluar diharapkan mampu mendorong tumbuhnya industri bahan baku baja (sponge/pig iron) dengan kapasitas 5 juta ton per tahun, dengan investasi sebesar US$ 1 miliar. Demikian juga dengan tembaga, meskipun cadangan yang tersedia sangat besar namun produksi konsentrat yang dilakukan lebih banyak yang diekspor.
(rrd/dnl)











































