"Nggak bisa dipungkiri pemakaian listrik oleh masyarakat meningkat. Sementara pasokan daya defisit," ujar General Manager (GM) PT PLN wilayah Sumatera Utara (Sumut) Dyananto mengatakan, di PLTGU sektor Belawan, Medan, Sumut, Senin (10/3/2014).
Dyananto mencontohkan, pihaknya tidak mungkin melarang warga membeli kulkas 2 pintu atau peralatan elektronik lainnya. Sayangnya, pemakaian listrik yang meningkat itu tidak dibarengi dengan pasokan yang memadai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dyananto mengatakan, kendala yang dihadapi dengan adanya defisit itu salah satunya karena beberapa tambahan dari PLTU tidak sesuai rencana. Pembangkit baru itu seperti di 2 mesin PLTU Nagan Raya yang berkapasitas 95 MW, 2 mesin di PLTU Pangkalan Susu berkapasitas 200 MW.
"Juga keterlambatan ijin pembangunan PLTA Asahan 3. Ada 2 mesin berkapasitas 90 MW," tuturnya.
Lebih lanjut lagi, Dyananto mengatakan terbatasnya akses transmisi dan pemasokan BBM juga menjadi penyebab. Kemudian perbaikan di pembangkit besar yang terkendala berbagai masalah seperti di PLTGU Belawan.
Pasokan listrik itu diatur oleh Unit Pengatur Beban (UPB) yang membagi kebutuhan listrik di Sumatera Bagian Utara (Sumbagut). Sementara, ketimpangan antara beban dan pasokan mengharuskannya untuk melakukan pemadaman bergilir.
Dyananto meminta publik untuk bersabar dan mendukung pihaknya yang sedang bekerja untuk mengatasi defisit pasokan listrik. Beberapa cara yang dengan mempercepat penyelesaian proyek-proyek pembangkit.
"Ini butuh dukungan pemerintah, DPR, dan pengertian dari masyarakat," ucapnya.
PLTD Kualanamu Dipasang Peredam
Suara bising dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) kapasitas 30 MW milik PT PLN di Kualanamu dipermasalahkan warga. Setelah sempat didemo lalu ditutup, pihak PLN memasang tembok peredam di sekitar lokasi itu.
Saat disambangi, PLTD yang berlokasi di dekat Bandara Kualanamu, Medan, Sumatera Utara (Sumut) itu memang berdekatan dengan rumah-rumah warga. Bahkan di bagian belakang juga terdapat sekolah yang berdempetan langsung.
"Ini sebagian peredam sudah dibangun. Nanti kita cek ke belakang," kata Dyananto.
Tampak beberapa pekerja membangun tembok peredam yang terdiri dari 3 lapis. Lapisan itu terbuat dari dinding bata dan GRC. Lapisan GRC ini biasa digunakan pada pembuatan ruang kedap suara.
Tembok peredam itu setinggi kurang lebih 2,5 meter. Menurut salah satu petugas di lokasi, peredam itu dapat mengurangi kebisingan yang dihasilkan 12 mesin yang sedang beroperasi.
"Kira-kira 60 desibel. Kalau nggak ada (peredam) ini bisa 70 desibel lebih," ucapnya.
Saat ini sebagian tembok peredam itu sudah berdiri dan akan segera diselesaikan. Nantinya pembangunan tembok peredam itu akan dibangun agak melengkung agar suara mesin tidak mengganggu warga.
Sebelumnya, masyarakat sempat mendemo PLTD Kualanamu untuk distop karena suara mesin yang bising. Padahal pasokan dari pembangkit itu juga menyuplai listrik di Bandara Kualanamu.
"PLN menyayangkan sikap masyarakat di Kualanamu yang meminta pembangkit listrik 30 MW dimatikan, apalagi di tengah kondisi kurangnya pasokan listrik di daerah tersebut," ucap Manajer Senior Komunikasi Korporat PT PLN Bambang Dwiyanto pekan lalu.
(dha/ang)











































