"Benar sejak 2005, namun pada 2009 saat PLTU Labuhan Angin masuk dengan kapasitas 2 x 115 megawatt (MW), pasokan listrik sudah mulai terpenuhi. Namun PLTU tersebut rusak yang kontraktornya China," ungkap Manajer Senior Komunikasi Korporat PT PLN (Persero) Bambang Dwiyanto, ditemui di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Jumat (14/3/2014).
Bambang mengatakan, kebutuhan listrik di Sumatera Utara saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara 2 PLTU yang direncanakan untuk memasok kebutuhan listrik di Sumatera Utara pada 2013 telat pengerjaannya.
"PLTU Pangkalan Susu kapasitas 2 x 200 MW harusnya selesai tahun lalu, tapi karena sulitnya pembebasan lahan, tidak bisa menyalurkan listrik. PLTU Nagan Raya 2 x 60 MW ada tapi karena satu tower belum bisa dibangun, karena lagi-lagi masalah lahan. Percuma pembangkit dibangun tapi transmisi listriknya tidak ada, karena transmisi itu untuk menyalurkan listrik," katanya.
Akibat 2 PLTU tersebut terlambat pengerjaannya, PLTU Labuhan Angin rusak, PLTGU harus dilakukan perbaikan karena sudah berusia lebih dari 30 tahun, membuat pasokan listrik tidak cukup.
"Beban listrik di Sumut itu 1.700 MW, tapi daya mampu listriknya saat ini masih 1.400 MW, sehingga defisit pasokan listrik," tutup Bambang.
(rrd/dnl)











































