Kendala Konversi, Mobil Terpasang Konverter Tak Bisa Masuk Bengkel Resmi

Kendala Konversi, Mobil Terpasang Konverter Tak Bisa Masuk Bengkel Resmi

- detikFinance
Jumat, 14 Mar 2014 18:19 WIB
Kendala Konversi, Mobil Terpasang Konverter Tak Bisa Masuk Bengkel Resmi
Jakarta - Kendaraan yang sudah terpasang alat konverter bahan bakar gas (BBG) tak bisa mendapat pelayanan bengkel resmi. Hal ini menjadi salah satu kendala program konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke BBG.

Direktur Bina Sistem Transportasi Perkotaan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Djoko Sasono mengungkapkan, bahwa saat ini program konversi BBM ke BBG masih menemui banyak kendala, sehingga hal ini akan membuat program konversi dari BBM ke BBG itu tidak berjalan maksimal.

"Konversi bahan bakar minyak ke gas juga sudah jadi rencana, di Jakarta itu lebih dari 200 SPBU namun SPBG kurang dari 10. Tentu saja kalau kita paksakan untuk konversi tentu nggak maksimal. Masyarakat juga susah dapatkan konverter kit, dan gasnya, kualitas pun tidak bagus serta lokasi tidak memungkinkan," katanya pada acara seminar di Hotel Millenium, Jakarta, Jumat (14/3/2014)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Djoko merasakan sendiri bahwa mobil dinasnya sendiri saat ini sudah tidak bisa lagi service di bengkel resmi setelah dipasang konverter kit. Hal ini karena dengan adanya pemasangan converter kit maka jaminannya harus dicabut sehingga pihaknya harus service di bengkel non resmi.

"Mobil dinas saya Toyota Altis karena sudah dipasang converter kit, itu saya sudah tidak bisa lagi masuk ke bengkel Toyota karena sudah berbeda ini bukan kewenangan Perhubungan. Jaminannya sudah dicabut. Makanya saya harus ke bengkel non resmi,"tambahnya.

Ia juga menilai bahwa jumlah kendaraan di Jakarta dan kota besar lainnya semakin banyak. Padahal pembangunan infrastruktur pendukungnya masih sangat lamban sehingga menimbulkan persoalan terutama kemacetan.

"Pertumbuhan negara mendorong kemampuan daya beli masyarakat untuk untuk memiliki kendaraan, sehingga menimbulkan kemacetan. Transportasi publik harus ramah lingkungan dan mulai mengurangi penggunaan BBM karena rata-rata pertumbuhan konsumsi energi pada sektor transportasi mencapai 6%-8% per tahun," katanya.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads