Kisah Sukses Petronas Ngebor Minyak di Daerah Konflik

Kisah Sukses Petronas Ngebor Minyak di Daerah Konflik

- detikFinance
Selasa, 25 Mar 2014 09:12 WIB
Kisah Sukses Petronas Ngebor Minyak di Daerah Konflik
Petaling Jaya - Dengan operasi internasional yang memberikan pertumbuhan produksi hampir 20% tahun lalu, keberhasilan di luar negeri tidak mudah datang bagi Petroliam Nasional Bhd (Petronas).

Perusahaan minyak nasional yang telah mengelola portofolio terutama di negara-negara dengan geopolitik yang panas ini, tidak membuat Petronas berbesar hati. Petronas kini lebih ekspansif ke daerah perbatasan yang lebih menantang.

Petronas adalah perusahaan minyak dan gas pertama yang menjelajah ke Sudan Selatan yang penuh konflik setelah kemerdekaan Sudan pada 2011. Tetapi selama periode pertama dari perang sipil pada 2011, produksinya anjlok menjadi 23.000 barel per hari (bpd) dari 147.000 barel per hari sebelumnya.

Saat sengketa pipa antara negara-negara tetangga diselesaikan, Petronas berhasil mengumpulkan level produksinya sebelum perang dan mencatat rekor. Tercatat telah memberikan produksi 80% di pertengahan 2013 setelah menunggu selama 15 bulan.

Namun tekanan budaya yang terus memanas memaksa Petronas menghentikan operasinya di dua dari tiga ladang di akhir tahun lalu. Petronas memiliki lebih dari 100 pegawai dan kontraktor dalam tiga perusahaan gabungan.

Hal ini yang membuat Sudan Selatan menjadi salah satu aset berharganya.

"Sudan dan Sudan Selatan adalah tempat yang sangat baik kecuali untuk masalah keamanan," kata Wakil Eksekutif untuk eksplorasi dan produksi PetronasDatuk Wee Yiaw Hin seperti dikutip dari The Star, Selasa (25/3/2014).

"Kita harus melihatnya sebagai investasi jangka panjang. Produksi dari Sudan dan Sudan Selatan rata-rata 220.000 saat ini," imbuhnya.

"Selain tidak ada produksi selama bertahun-tahun, kami tidak perlu membuat perbaikan pada operasi kami di sana karena kami sudah menghasilkan uang yang banyak dan menyadari nilanya yang besar," lanjutnya.

Selain Sudan, Petronas pun merambah ke daerah konflik lainnya, seperti di Irak, di mana Petronas mengoperasikan empat blok, kilang Garraf menghasilkan minyak pertamanya pada 31 Agustus, menandai 10 tahun proyek hijau pertama di Irak setelah perang. Diperkirakan kilang ini mampu menghasilkan 230.000 minyak pada 2017 saat beroperasi secara komersial.


(zul/dru)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads