Negara Pengimpor Gas Desak Harga LNG Lebih Murah

Laporan dari Seoul

Negara Pengimpor Gas Desak Harga LNG Lebih Murah

- detikFinance
Selasa, 25 Mar 2014 10:28 WIB
Negara Pengimpor Gas Desak Harga LNG Lebih Murah
(ilustrasi foto: dok detikFinance)
Seoul - Pembahasan harga Gas Alam Cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) menjadi isu yang hangat dalam konferensi Gastech di Seoul, Korea Selatan. Konferensi terbesar bidang downstream gas dunia ini berlangsung 23-27 Maret 2014.

Negara-negara importir LNG seperti Korea Selatan dan Jepang punya kepentingan agar harga gas bisa lebih murah. Mereka menghendaki harga LNG yang lebih fleksibel. Bagi negara-negara produsen LNG seperti Indonesia hal ini menjadi kabar yang kurang baik.

Executive VP and COO Korean Gas (Kogas) Young-Sik Kwon mengatakan, hampir 70% impor LNG dunia dilakukan oleh Korsel, Jepang, Taiwan, dan China.

"Bagaimanapun harga yang tinggi membuat impor bahan bakar sangat mahal untuk para pembeli, perlu harga LNG yang murah," kata Kwon dalam konferensi Gastech di Seoul, Selasa (24/3/2014).

Sementara itu, President of Japan Oil, Gas and Metals National Corp Hirobumi Kawano mengatakan, harga LNG yang tinggi menjadi masalah serius. Ia mengatakan, biaya transportasi LNG dari Kanada hampir separuh dari AS. Jepang juga menghendaki kontrak LNG dalam jangka panjang. "Kami butuh impor LNG dari negara pemasok baru," kata Kawano.

Saat ini negara-negara produsen LNG selain Indonesia, antara lain Afrika Timur sebagai negara pemasok baru LNG.

Jepang punya kepentingan dalam penggunaan gas, terkait masalah pada pembangkit nuklirnya sejak 2011 lalu hingga mengimpor 87,5 juta metrik ton (MMt) LNG. Namun sejalan pulihnya pembangkit nuklirnya akan ada penurunan impor volume LNG hingga 70 MMt pada 2020, namun setelah 2020 bakal ada penurunan pembangkit nuklirnya lagi sehingga akan ada impor 100 MMt.

Sementara itu Acting Upstream International Director Shell Maarten Wetselaar mengatakan, Asia tak boleh mengulangi kesalahan Eropa yang dahulu menggunakan batu bara sebagai sumber energi karena terkait peningkatan emisi karbon. Sumber energi gas harus jadi prioritas di Asia.

Menurutnya, gas masih harus bersaing dengan sumber energi seperti batu bara yang harganya lebih murah. Ia mencontohkan China yang hanya menggunakan 6% gas, sedangkan batu bara hingga 67%.

Maarten mengarapkan, di masa depan harus ada upaya kombinasi sumber energi selain batu bara, gas, dan energi terbarukan seperti energi angin, matahari, dan lainnya.

"Saya tak merekomendasikan batu bara," katanya.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads