Kunjungan detikFinance bersama PT Pertamina (Persero) ke konferensi Gastech 23-27 Maret 2014 di KINTEX, Seoul, berkesempatan menyaksikan langsung kemajuan Korsel dalam hal pemanfaatan gas.
Misalnya taksi, di Korsel semua kendaraan umum khususnya taksi harus memakai LPG. Mesin taksi yang menggunakan bahan bakar LPG memiliki suara lebih senyap daripada bahan bakar gas (BBM). Selain itu, sangat sedikit polusi yang dihasilkan, berjalan kaki di Seoul jauh lebih nyaman daripada di negara-negara yang masih menggunakan BBM untuk kendaraan.
Sepanjang perjalanan di Kota Seoul, pemandangan stasiun pengisian LPG dan CNG merupakan hal biasa. Selain kendaraan taksi dan bus, terlihat kendaraan-kendaraan pribadi pun mengantre mengisi bahan bakar gas (BBG).
Seorang warga Seoul bernama Hyunn-Jin mengatakan, di negaranya hampir seluruh rumah tangga menggunakan gas. Ia beralasan penggunaan gas lebih murah daripada bahan bakar lainnya.
"Pakai gas jauh lebih murah. Semua rumah di sini pakai gas (gas kota)," kata Hyunn-Jin kepada detikFinance, di Seoul, Selasa (25/3/2014).
Selain itu, ia mengatakan produsen mobil Korsel seperti KIA dan Hyundai memproduksi kendaraan yang bisa menggunakan gas. Untuk kendaraan bus menggunakan CNG.
Hyunn-Jin mengaku kaget, mendengar informasi Indonesia yang merupakan negara penghasil gas termasuk LNG di dunia, belum banyak memanfaatkan gas untuk rumah tangga hingga kendaraan. Ia juga mengatakan, di negaranya kasus kendaraan bermasalah karena musibah penggunaan LPG bisa dihitung dengan jari.
"Di sini penggunaan gas aman, tak sampai ada kasus kendaraan terbakar," jelas Hyunn-Jin.
Selain itu, pemandangan yang mirip seperti negara-negara Asia Timur lainnya seperti China dan Jepang, yaitu mayoritas kendaraan yang berseliweran merupakan produk lokal. Di jalan raya, mobil Hyundai dan KIA mendominasi, sesekali hanya terlihat mobil buatan AS yaitu Chevrolet, bahkan kendaraan buatan Jepang nyaris tak nampak.
(hen/rrd)










































