"Itu (pencabutan subsidi listrik) berpengaruh, bukan hanya di sektor baja tapi semua sektor juga. Kita berharap agar masukan Asosiasi Besi Baja kepada Kementerian Perindustrian diterima," kata Direktur Utama KRAS Irvan Kamal Hakim usai RUPST PT KRAS di Hotel Kartika Chandra Jalan Gatot Subroto Jakarta Pusat, Kamis (27/03/2014).
Ia berharap agar proses pencabutan subsidi listrik golongan industri tidak dilakukan tahun ini dan dilakukan secara bertahap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya ada beberapa alasan mengapa pencabutan subsidi listrik dirasa cukup berat. Alasan pertama karena melemahnya nilai tukar rupiah dan kedua adalah naiknya upah tenaga kerja.
"Karena indutsri manufaktur ini sedang menghadapi banyak kendala. Yaitu, pertama nilai tukar, kedua Kenaikan biaya energi termasuk gas alam, ketiga, dua kali kenaikkan UMP. Itu angka masif paling parah nilai tukar, tidak bisa dilihat tapi tiba-tiba rugi kurs," katanya.
Ia meminta perhatian pemerintah agar lebih serius menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Bila rupiah terus mengalami fluktuasi, bisa menyebabkan ketidakpastian dalam berusaha.
"Ini harus dicatat kita prinsipnya ingin rupiah stabil di angka Rp 12-13 ribu/US$. Tetapi stay di angka itu, kita tidak menginginkan rupiah dalam sehari naik 20, 30 poin. Itu akan menyulitkan siapapun sulit mengambil keputusan," jelasnya.
(wij/dru)











































