Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengungkapkan, harusnya pemerintah dan DPR menaikkan harga BBM subsidi di 2012. Jadi bila harga BBM subsidi di 2012 naik, dan di 2013 kembali naik, maka dolar tidak akan menembus Rp 12.000.
Darmin menilai pemerintah terlambat dalam pengambilan keputusan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertengahan 2013, pemerintah akhirnya menaikkan harga BBM subsidi dari Rp 4.500/liter menjadi Rp 6.500/liter untuk bensin jenis premium, dan Rp 5.500/liter untuk solar subsidi. Namun sayangnya, berbagai permasalahan sudah terlalu menumpuk.
Dari sisi inflasi, awal 2013 inflasi melonjak karena harga barang kebutuhan pokok menjadi tidak terkendali dan menganggu kestabilan ekonomi domestik.
"Kalau tahun 2013 BBM memang naik, tapi itu sudah menumpuk semua masalah," ujarnya.
Kemudian masalah lainnya adalah pada Mei 2013. Saat itu Gubernur Bank Sentral AS The Fed Ben Bernanke mengumumkan rencana penarikan stimulus dalam waktu dekat. Sehingga para investor menarik dananya yang berada negara lain. Termasuk Indonesia.
"Ya sudah menumpuk. Apalagi Bernanke sudah ngomong mau narik stimulus. Jadi saja semakin buruk kondisinya," imbuh Darmin yang juga sebagai Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI).
Darmin berharap ini tidak terulang lagi kedepannya. Persoalan ekonomi selalui berkaitan setiap waktunya. Kebijakan pun juga harus dilakukan pada situasi yang tepat. "Jadi jangan sampai itu terulang lagi," terangnya.
(mkl/dnl)











































