Jika Subsidi Energi Dicabut, RI Sudah Punya 60 Bandara Kualanamu

Jika Subsidi Energi Dicabut, RI Sudah Punya 60 Bandara Kualanamu

- detikFinance
Rabu, 02 Apr 2014 18:22 WIB
Jika Subsidi Energi Dicabut, RI Sudah Punya 60 Bandara Kualanamu
Jakarta - Anggaran subsidi energi yang besar terus menjadi sorotan. Pada APBN 2014 anggaran subsidi energi mencapai angka Rp 311 triliun dan sebesar Rp 211 triliun di dalamnya merupakan untuk Bahan Bakar Minyak (BBM).

Ekonom dari Universitas Gajah Mada (UGM) Tony Prasetiantono menuturkan besarnya anggaran tersebut masih memberatkan fiskal negara. Harusnya itu ditujukan ke hal yang lebih produktif. Seperti pembangunan bandar udara (bandara).

Ia mengatakan bandara Kualanamu, Sumatera Utara dibangun dengan anggaran sebesar Rp 5,4 triliun. Artinya bila subsidi dicabut maka pemerintah bisa membangunan sekitar 60 bandara di dalam negeri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau ilustrasinya kan subsidi energi itu Rp 300 triliun. Jadi kalau bandara Kualanamu yang katanya tercanggih di Indonesia itu kan cuma Rp 5,4 triliun. Kalau subsidi dicabut artinya ada 60 bandara yang bisa dibangun di Indonesia," ungkapnya dalam diskusi laporan perekonomian Indonesia tahun 2013 di kantor BI, Jakarta, Rabu (2/4/2014).

Ini pun jangan dianggap hanya sebagai ilustrasi semata. Bandara adalah pendukung konektivitas dari satu daerah ke daerah lain di dalam negeri. Sehingga penting untuk dibangun. Apalagi perlu ada penghubung dalam mendukung arus transportasi.

"Ya seperti Jakarta, kan sekarang sudah ada 1 nanti bisa ditambah menjadi 2. Di Bali bisa bangun satu lagi. Banyak daerah yang akan bisa memiliki bandara hebat seperti Kualanamu," jelasnya.

Ia menambahkan kenaikan harga BBM adalah keputusan yang mesti diambil pemerintah selama ada tekanan global. Memang dalam waktu dekat akan menganggu daya beli masyarakat karena lonjakan inflasi. Namun itu hanya sementara.

"Akan sulit karena dalam tekanan global kita harus naikkan BBM," tegasnya.

Menurutnya banyak pihak yang masih berpikir Indonesia adalah lumbung minyak. Ketika tahun 1970-an, produksi minyak memang mencapai 2 juta barel per hari (bph). Sementara konsumsi hanya kisaran 800 ribu bph.

"Berbeda dengan sekarang yang produksinya itu 800 ribu bph tapi konsumsinya sudah sangat besar dari produksinya. Akhirnya impor lagi minyak," ujar Tony

Tony menyarankan harga BBM naik menjadi Rp 8.000/liter untuk premium dan solar. Sementara saat ini premium Rp 6.500/liter dan solar Rp 5.500. Ia menilai kenaikan BBM dilakukan secara bertahap dan konsisten.

"Naik memang tidak sekali tembak. Kalau sekarang Rp 6.500 dan keekonomian Rp 10.000 ya paling sekitar Rp 8.000/liter," imbuhnya.

(mkl/dru)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads