Harga BBM Bisa Naik Tahun Ini Asal Inflasi Tak Tinggi

Haruskah BBM Subsidi Dihapus?

Harga BBM Bisa Naik Tahun Ini Asal Inflasi Tak Tinggi

- detikFinance
Jumat, 04 Apr 2014 12:18 WIB
Harga BBM Bisa Naik Tahun Ini Asal Inflasi Tak Tinggi
Jakarta - Opsi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi kembali mencuat di tahun ini. Mulai dari lembaga internasional hingga Bank Indonesia (BI) merekomendasikan hal itu kepada pemerintah.

Pemerintah memang tidak menutup kemungkinan diambilnya kebijakan tersebut. Namun, yang menjadi perhatian adalah situasi makro ekonomi saat kenaikan harga dilakukan. Seperti inflasi.

Plt Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Andin Hadianto menuturkan, inflasi menjadi patokan penting bagi pemerintah dalam kebijakan ini. Bila inflasi terlalu tinggi, maka akan menganggu daya beli masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Situasi dan kondisinya itu ya lihat momentumnya, kalau tiba-tiba melihat inflasinya tinggi yang itu istilahnya nggak pas kan timing (waktu)," ujarnya kepada detikFinance, Jumat (4/4/2014).

Sampai dengan Maret 2014 (akumulasi), inflasi tahun kalender mencapai 1,14%. Angka tersebut masih sejalan dengan target pemerintah untuk menjaga inflasi pada 4,5% plus minus 1%.

Andin menilai, kenaikan harga BBM subsidi merupakan bagian dari reformasi subsidi energi. Di mana menurut Andin tidak bisa dilakukan hanya satu kali. Namun juga bertahap.

Beberapa negara, seperti Turki, Brasil, dan India juga menerapkan hal yang sama. Dengan tujuan penciptaan kestabilan ekonomi jangka menengah. Akan tetapi tetap memperhatikan kondisi inflasi.

"Kalau belajar dari pengalaman negara lain reformasi subsidi itu adalah suatu hal yang bersifat jangka menengah. Itu tidak bisa hanya setahun dua tahun, harus dilakukan secara terukur, tapi juga lihat situasi dan kondisinya," paparnya.

Belajar dari tahun lalu, kenaikan harga BBM subsidi terjadi saat inflasi tinggi. Sehingga masyarakat yang terkena dampaknya sangat terpukul. Akhir 2013 inflasi mencapai 8,38% atau di luar target pemerintah yang sebesar 7,2%.

Kondisinya saat itu, pertama adalah karena dipengaruhi kebijakan pangan pada awal tahun. Kedua, kenaikan harga BBM mendekati kegiatan puasa dan lebaran Idul Fitri yang seperti tahun-tahun sebelumnya mendongkrak harga kebutuhan pokok.

Sebelumnya, Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengungkapkan, harusnya pemerintah dan DPR menaikkan harga BBM subsidi di 2012. Jadi bila harga BBM subsidi di 2012 naik, dan di 2013 kembali naik, maka dolar tidak akan menembus Rp 12.000.

Darmin menilai pemerintah terlambat dalam pengambilan keputusan.

"Ini semua karena kita terlambat mengambil keputusan. Kalau BBM naik tahun 2012 itu ceritanya lain. Nggak akan sampai ke Rp 12.000/US$. Paling kurs itu cuma naik Rp 10.500/US$," kata Darmin.

Pertengahan 2013, pemerintah akhirnya menaikkan harga BBM subsidi dari Rp 4.500/liter menjadi Rp 6.500/liter untuk bensin jenis premium, dan Rp 5.500/liter untuk solar subsidi. Namun sayangnya, berbagai permasalahan sudah terlalu menumpuk.

Dari sisi inflasi, awal 2013 inflasi melonjak karena harga barang kebutuhan pokok menjadi tidak terkendali dan menganggu kestabilan ekonomi domestik.

"Kalau tahun 2013 BBM memang naik, tapi itu sudah menumpuk semua masalah," ujarnya.

(mkl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads