Ini disebabkan karena BBM adalah komoditas yang memiliki risiko besar dan cukup sensitif akan pengaruh situasi eksternal (variable shock). Terutama bila harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah bergerak.
Setiap depresiasi atau pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 5%, maka anggaran subsidi BBM akan bertambah Rp 20,3 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau rupiah itu terus melemah, maka anggaran subsidi akan jadi membengkak," kata Kepala Ekonom Bank Danamon Anton Gunawan kepada detikFinance, Jumat (4/4/2014).
Kemudian faktor selanjutnya adalah, harga minyak dunia. Bila harga minyak naik sebesar 5%, maka anggaran subsidi BBM yang akan bertambah adalah Rp 16,6 triliun.
Pada asumsi makro APBN 2014, harga minyak yang dipatok adalah US$ 106 per barel. Melihat dalam tiga bulan terakhir, kondisi harga minyak memang bergerak tidak terlalu jauh dari asumsi pemerintah.
"Harga minyak dunia memang tidak terlalu jauh ya dari asumsi. Tapi karena nilai tukar kita melemah, tetap saja tambah anggarannya," ujar Anton
Dua faktor tersebut muncul, karena BBM yang dikonsumsi selama ini adalah impor. Berbeda halnya bila BBM diproduksi dan diolah dari dalam negeri. Sehingga tidak tergantung dengan nilai tukar dan harga minyak dunia.
"Itu tidak bisa dihindari, karena BBM yang dikonsumsi itu kan impor. Jadi mau nggak mau kita harus ikut," jelasnya.
Di samping itu, nilai tukar dan harga minyak dunia sebenarnya juga berpengaruh terhadap anggaran subsidi listrik. Tahun ini, subsidi listrik adalah sebesar Rp 100 triliun.
Hitungannya, setiap pelemahan nilai tukar sebesar 5%, maka anggaran bertambah Rp 10,7 triliun. Bila harga minyak dunia naik 5%, maka tambahan anggaran Rp 8,8 triliun.
(mkl/dnl)










































