"Cara paling efektif untuk mengendalikan BBM subsidi adalah dengan teknologi, salah satunya dengan RFID," kata Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo ditemui di Kantor Kementerian ESDM, seperti dikutip Selasa (15/4/2014).
Susilo menyarankan agar Pertamina lebih fokus melakukan pemasangan RFID untuk kendaraan berbahan bakar solar. "Untuk kendaraan premium nggak usah, nanti saja, fokus ke kendaraan solar dulu saja," tegasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Solar itu banyak yang jebol kuotanya di beberapa daerah. Ini karena di daerah-daerah tertentu solar itu dijual ke industri, pertambangan," ungkapnya.
Seperti diketahui, sektor industri, pertambangan dan perkebunan dilarang menggunakan BBM subsidi, tetapi ditengarai banyak solar subsidi yang diselewengkan ke sektor-sektor tersebut. Salah satu penyebabnya adalah disparitas harga solar subsidi dengan non subsidi cukup jauh. Harga solar subsidi ditetapkan Rp 5.500 per liter, sedangkan solar non subsidi lebih dari Rp 10.000 per liter.
Terkait program SMP BBM sendiri, Pertamina mengkonfirmasi program tersebut molor sampai dengan Mei 2015 baru akan berlaku secara nasional, itu dengan catatan pihak PT Inti (Persero) selaku pihak yang melakukan pemasangan RFID tidak mengalami kesulitan keuangan akibat kurs dolar yang menguat terhadap rupiah. Karena sebagian besar RFID diimpor dari Tiongkok dan Korea.
(hds/hds)











































