Brasil dan Thailand Sukses Kembangkan Bahan Bakar dari Singkong, RI Bagaimana?

Brasil dan Thailand Sukses Kembangkan Bahan Bakar dari Singkong, RI Bagaimana?

- detikFinance
Senin, 21 Apr 2014 10:21 WIB
Brasil dan Thailand Sukses Kembangkan Bahan Bakar dari Singkong, RI Bagaimana?
Jakarta -

Negeri Samba Brasil dan Jerman merupakan sedikit negara yang berhasil kembangkan dan manfaatkan energi baru terbarukan. Bahkan kebutuhan energi di Brasil 35%-nya dipasok dari bioethanol.

Tidak hanya dua negara itu, negara tetangga Indonesia yakni Thailand, juga berhasil mengembangkan dan meningkatkan produksi bioethanol dari ubi kayu atau singkong. Mengapa negara-negara tersebut berhasil?

"Brasil berhasil manfaatkan bahan bakar nabati (BBN), karena mereka mempunyai badan/lembaga yang terintegrasi bersama dari hulu hingga hilir. Mereka butuh tanaman apa, berapa lahan yang diperlukan semuanya bergerak. Mulai dari pertanian, kehutanan, perdagangan dan lain-lainnya. Tanah sawit semua tanam, dan lainnya," ungkap Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana ditemui di Kantor Kementerian ESDM, pekan lalu, Rabu (16/4/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas kenapa di Indonesia tidak bisa?

"Di Indonesia, kunci keberhasilan BBN itu multi sektor dan multi aktor, ditentukan banyak pemimpin," ucapnya.

Bagaimana dengan Thailand, mengapa negeri gajah putih tersebut justru lebih dulu berhasil mengembangkan bioethanolnya? Menurut Rida, keberhasilan Thailand tersebut karena awalnya juga memaksa petani untuk menanam singkong dan memproduksi bioethanol.

"Saya tanya petani di sana, kok bisa berhasil? Mereka bilang awalnya juga karena dipaksa pemerintah, tapi pemerintah Thailand tidak asal memaksa, mereka juga memastikan pasarnya ada," katanya.

"Saat ini di Thailand, petani singkong hilir mudik dari satu pabrik bioethanol ke pabrik lainnya, karena harga bioethanol masing-masing pabrik kadang beda-beda, harga tertinggi yang akan mereka jual (singkongnya)," ungkap Rida.

Indonesia sendiri saat ini lebih mendorong biodiesel dari Crude Plam Oil (CPO/kelapa sawit) untuk kendaraan berbahan bakar solar. Alasannya karena lahan sawit di Indonesia sangat banyak.

Bahkan potensi biodiesel di Indonesia jika maksimal dikembangkan, bisa lebih dari 36 juta kiloliter (KL), sangat banyak.

Berdasarkan data Ditjen EBTKE, potensi biodiesel Indonesia yakni:

Kelapa sawit dengan luar lahan 8,03 juta hektar dengan potensi produksi biodiesel mencapai 3,604 ton per hektar atau sebanyak 31,9 juta KL lebih. Kelapa dengan luas lahan 3,8 juta hektar lebih dengan produktivitas minyak ,2-0,5 ton per hektar, bisa menghasilkan biodiesel sebanyak 4,7 juta KL.

Jarak pagar dengan luas lahan sebanyak 39.000 hektar dapat memproduksi biodiesel sebanyak 39.222 KL. Kemiri sunan, dengan luas lahan 1.400 hektar dapat menghasilkan biodiesel sebanyak 21.029 KL.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads