Sudah 7 Tahun, Konversi Elpiji 3 Kg Belum Sentuh Indonesia Timur

Sudah 7 Tahun, Konversi Elpiji 3 Kg Belum Sentuh Indonesia Timur

- detikFinance
Senin, 21 Apr 2014 16:42 WIB
Sudah 7 Tahun, Konversi Elpiji 3 Kg Belum Sentuh Indonesia Timur
ilustrasi
Jakarta -

Program konversi penggunaan minyak tanah ke elpiji 3 kg akan selesai di 2014. Namun ada banyak wilayah di Indonesia timur yang belum terjangkau program ini.

Program konversi minyak tanah ke elpiji dimulai di tahun 2007 atau 7 tahun lalu. Saat itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengamanatkan ke beberapa Kementerian untuk melakukan konversi ke 58 juta kepala keluarga (KK) melalui PT Pertamina (Persero).

Di tahun ini, target 58 juta KK hampir tercapai. Namun jumlah tersebut belum mencakup KK yang sebagian besar tinggal di kawasan Indonesia timur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"2014 merupakan tahun terakhir pelaksanaan konversi. Dari semua (58 juta), hanya tersisakan wilayah Papua, Ambon, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Sumbawa," kata VP Gas dan Gas Domestik PT Pertamina Gigih Wahyu Irianto di kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Senin (21/4/2014).

Di tahun 2013, Pertamina sudah merampungkan program konversi untuk 55,3 juta KK, yang mayoritas berada di kawasan Barat Indonesia. Tahun ini, sekitar 2,7 juta yang juga kebanyakan di Barat akan terjangkau program ini. Sehingga, tahun ini program 58 juta KK yang dikonversi akan selesai.

"Di 2014 itu, Sumbar, Bangka, Kalimantan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, ada sekitar 12 provinsi. Kita harapkan, daerah itu minyak tanahnya akan kering," katanya.

Program konversi ini mulai dilakukan di tahun 2007. Program ini dianggap penting karena banyak masyarakat yang menggunakan minyak tanah sebagai sumber energi rumah tangga atau industri kala itu. Di sisi lain, pemerintah harus mensubsidi minyak tanah karena harga yang dijual di luar harga keekonomian.

"Harganya lebih tinggi dibanding harga solar," lanjut Gigih.

Atas dasar itu pemerintah melancarkan program konversi minyak tanah ke elpiji 3 kg. Beberapa Kementerian terkait mulai melakukan program ini namun tidak efektif, hingga pada akhirnya, wewenang penuh diberikan kepada Pertamina.

Sejak diprogramkan pada 2007, hingga 2013 lalu, program tersebut menghasilkan efisiensi anggaran. Tercatat efisiensi senilai Rp 115,6 triliun secara komulatif didapat pemerintah. Pada dasarnya hitungan konsumsi 1 liter minyak tanah sama dengan 0,4 Kg elpiji.

"Ini bukti, konversi ini sangat bermanfaat bagi kita. Keuntungan lain adalah kualitas udara. Ada studi di Jakarta itu 4 hari matahari terang dalam seminggu, sisanya kena asap. Sekarang sepanjang saat kita lihat matahari terang," jelas Gigih.

(zul/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads