"Silakan saja, boleh-boleh saja, bebas, Pertamina itu kan entitas bisnis yang bebas. Artinya untuk men-secure domestiknya bebas sama dengan PGN (Perusahaan Gas Negara) kalau mau impor silakan, tapi saat ini belum karena masih cukup dari dalam negeri," ujarnya ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jl Merdeka Selatan 18, Senin (28/4/2014).
Johanes menegaskan, pihaknya selaku pelaksana kegiatan di hulu minyak dan gas bumi telah memberikan alokasi kuota gas untuk PT Pertamina. "Oh iya, kita kasih, baik yang di Arun (Aceh), yang di Jawa Barat (FSRU Jawa Barat yang Nusantara Regas) semua kita kasih," ucapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masalah perbesar alokasi gas dan tidak perbesar itu tergantung infrastruktur penerima. Itu kan ada kapasitasnya masing-masing, kalau misalnya kapasitas 1,5 juta ton per tahun itu harus ada hitung-hitungannya, nggak mungkin kan dikasih bayak terus nggak bisa menerima," katanya.
Johanes memastikan, produksi gas Indonesia sangat banyak, bahkan untuk domestik akan berlebih.
"Ada proyek IDD (laut dalam oleh Chevron), Lapangan Jangkrit oleh ENI dan Tangguh ( di Papua oleh BP) itu belum ditentukan pembelinya, yang produksi Tangguh Train 3 alokasi 40% untuk domestik dan dibeli PLN pun masih sisa banyak," tutupnya.
(rrd/hen)










































