Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan anggaran subsidi BBM 2014 ditetapkan sebesar Rp 210,7 triliun. Anggaran tersebut dibuat berdasarkan asumsi kurs Rp 10.500 per dolar AS. Bila sampai akhir tahun rata-rata kurs adalah Rp 11.500 per dolar AS, maka anggaran subsidi BBM bisa menjadi sekitar Rp 240 triliun.
"Kalau deviasinya Rp 100, tambahan defisit US$ 300 juta. Kalau selisihnya Rp 1.000 kan US$ 3 miliar. Jadi ada tambahan defisit Rp 30 triliun," katanya pada acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) 2014 di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (30/4/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Realisasi rata-rata kurs sampai Februari 2014 adalah Rp 12.057 per dolar AS. Namun Chatib menilai nantinya rupiah berpeluang menguat.
Acuannya adalah neraca perdagangan yang surplus setiap bulannya. Defisit transaksi berjalan pun juga diperkirakan akan berada di bawah 3% PDB.
BBM adalah komoditas yang memiliki risiko besar dan cukup sensitif akan pengaruh situasi eksternal. Terutama bila harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah bergerak.
Dalam Nota Keuangan disebutkan, setiap depresiasi atau pelemahan rupiah terhadap dolar AS sebesar 5%, maka anggaran subsidi BBM akan bertambah Rp 20,3 triliun.
Kemudian faktor selanjutnya adalah, harga minyak dunia. Bila harga minyak naik sebesar 5%, maka anggaran subsidi BBM yang akan bertambah adalah Rp 16,6 triliun.
Β
(mkl/hds)











































