Di April 2014, Irak meraup pendapatan US$ 7,5 miliar atau sekitar Rp 75 triliun dari ekspor minyak. Saat ini, sektor perminyakan di Irak masih mengalami gangguan berupa serangan dari sejumlah militan, yang menyasar pipa-pipa minyak di negara tersebut.
Menurut data Kementerian Perminyakan Irak yang dilansir dari AFP, Senin (5/5/2014), seluruh ekspor minyak Irak ini dilakukan melalui terminal di wilayah Selatan, menuju teluk. Ini karena adanya serangan militan pada pipa ekspor minyak di wilayah utara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usaha negara ini untuk mendiversifikasi ekonominya dalam beberapa tahun terakhir tidak berhasil. Pemerintahan di Baghdad menilai, uang hasil ekspor minyak bisa membantu pembangunan infrastruktur di negara tersebut.
Nilai ekspor minyak Irak sempat menyentuh 2,8 juta barel per hari pada Februari, yang merupakan angka tertinggi sepanjang dekade, dengan produksi 3,5 juta barel per hari.
Meski pendapatan dari minyak tinggi, namun rakyat Irak disebut banyak komplain soal korupsi dari hasil penjualan minyak ini.
(dnl/hds)











































