Seorang pembaca detikFinance bernama Danny mengirimkan foto harga BBM subsidi di salah satu SPBU di wilayah Kemaman, Trengganu. Pada gambar tersebut tertera harga BBM subsidi yang dijual adalah BBM RON 95.
Gambar itu menjelaskan, harga BBM RON 95 yang dijual di SPBU milik Esso ini dijual 2,83 ringgit tanpa subsidi, dan harga subsidinya adalah 2,1 ringgit. Sehingga ada subsidi yang diberikan pihak kerajaan Malaysia 0,7 ringgit per liternya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Malaysia, semua SPBU menjual BBM subsidi ini. Jadi tak hanya SPBU Petronas saja," ujar Danny yang bekerja di salah satu perusahaan migas itu, Selasa (6/5/2014).
Tak hanya bensin subsidi saja yang oktannya tinggi, untuk solar subsidi di Malaysia juga yang sekelas Pertamina Dex yang harganya jugal di atas Rp 10.000 per liter. Harga solar ini tanpa subsidi adalah 2,83 ringgit per liter, dan harga jual subsidinya adalah 2 ringgit, sehingga ada subsidi dari kerajaan 0,83 ringgit. Jadi bila dikonversi, harga solar ini adalah sekitar Rp 7.000 per liter.
Wakil Menteri Keuangan Malaysia Datuk Ahmad Maslan tahun lalu pernah mengatakan, harga bensin di Malaysia termasuk yang termurah ke-8 di dunia. Jika dibandingkan dengan negara tetangga, harga di Malaysia memang murah.
Sebut saja Thailand yang mematok harga Pertamax Plus di Rp 14.000 dan Singapura yang menjual Pertamax Plus di Rp 16.000. Sementara Indonesia sendiri menjual Pertamax Plus di atas Rp 10.000.
Malaysia sama seperti Indonesia yang memberikan subsidi BBM. Tetapi di Malaysia, BBM yang disubsidi adalah jenis RON 95 atau Primax 95 yang setara dengan Pertamax Plus.
Pada kesempatan itu, Danny mengatakan, bensin yang dijual di SPBU Malaysia adalah bensin beroktan 95 dan 97. Tidak ada bensin yang beroktan 92, apalagi beroktan 88 seperti premium.
"Di sini (Malaysia) mobil-mobil mewah biasa menggunakan bensin beroktan 97. Sementara untuk solarnya, tidak mengeluarkan asap hitam seperti di Indonesia," jelas Danny.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa pernah mengungkapkan, bensin jenis premium RON 88 merupakan bahan bakar yang masih dalam kategori kotor.
"Oktan number 88 atau premium kita, belum termasuk kategori blue energy atau langit biru. Jadi kalau kita menggunakan oktan number rendah, di samping tidak efisien, tingkat polusinya masih tinggi. Oleh sebab itu berbicara soal premium, tidak hanya berbicara soal subsidi tapi juga environment," kata Hatta.
(dnl/ang)











































