GM City Gas PT Pertagas Niaga, Arief Wardono membeberkan faktor yang menyebabkan pengembangan gas kota di DKI Jakarta menjadi perkara yang rumit. Masalah yang paling utama adalah ketersediaan lahan.
"Dari sisi Pertagas, jarak dari pipa utama kita ke wilayah yang akan dikembangkan itu melewati area yang sangat mahal untuk pembebasan lahan. Permasalahan negosiasi (pembebasan lahan) juga bukan perkara mudah," papar dia di Prabumulih, Selasa (7/5/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seperti yang di Muara Karang, itu kan crossing (melintasi jalan). Kesulitannya di situ," tambah dia.
Instalasi di Jakarta, tambah Arief, juga sudah sangat rumit. "Di bawah tanahnya sudah rapet sekali. Ada kabel optik, pipa PDAM, dan lain-lain," katanya.
Namun demikian, bukan berarti pengembangan gas kota di Jakarta menjadi hal yang mustahil. Arief mengatakan, salah satu skema yang dapat diterapkan adalah dengan membuat compressed natural gas (CNG) bertumpuk yang dibangun di dekat lokasi pengembangan jaringan gas kota.
CNG atau gas alam terkompresi disimpan dan didistribusikan dalam bejana tekan yang biasanya berbentuk silinder.
Gas yang dimanfaatkan dengan skema tersebut tidak dialirkan melalui pipa, melainkan menggunakan truk angkut yang membawa gas dari pipa utama menuju CNG bertumpuk di lokasi yang diinginkan.
Gas yang telah dimuat dalam bejana tekan dan diterapkan dalam mekanisme bejana bertumpuk tersebut baru dialirkan ke jaringan gas kota yang berdekatan.
"Di Osaka (Jepang) sudah mulai seperti itu. Jadi mereka bangun tumpukan-tumpukan CNG di dekat apartemen-apartemen mereka memenuhi gas kota. Di Jakarta bisa seperti itu, tapi kita masih perlu hitung-hitungan dulu berapa biaya angkut dan sebagainya," jelas Arief.
(hds/hds)











































