"Cadangan minyak kita memang saat ini sekitar 3 miliar barel lebih sedikit, kalau dihitung-hitung itu hanya cukup 10 tahun saja," ucap Ketua Umum Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Rovicky Dwi Putrpohari ditemui di City Plaza, Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (7/5/2014).
Namun bukan berarti minyak di Indonesia tinggal 10 tahun lagi, melainkan masih bertahun-tahun lagi. Rovicky mengatakan, masih banyak terdapat potensi cadangan minyak bumi baru di Indonesia, bahkan pada lapangan-lapangan yang sudah sedot minyaknya bertahun-tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, untuk mendapatkan minyak bumi tersebut tentunya harus banyak melakukan pengeboran minyak.
"Masalahnya sekarang ini yang ngebor minyak makin sedikit. Tadi dari data SKK Migas tahun ini rencananya mau ngebor 260 sumur sampai akhir semester-1 baru 33 sumur yang dibor, masih sedikit sekali, bagaimana mau dapat banyak minyak," ungkap Rovicky.
Pengeboran minyak di wilayah barat khususnya di Sumatera telah dilakukan sejak 1900, namun Indonesia baru dapat minyak di wilayah tersebut setelah 40 tahun kemudian, yakni di lapangan Duri yang dilakukan oleh Chevron, dengan produksinya maksimal pernah mencapai 1 juta barel/hari. Padahal di daerah Duri itu sudah banyak dibor tapi tidak menemukan minyak.
"Seperti di Papua Tangguh, sebelumnya sudah dibor oleh ConocoPhillips, Mobil Oil dan banyak lagi tapi nggak dapat. Eh pas dibor sama BP (British Pteroleum) dapat banyak gas bumi. Di Cepu juga sama sudah dibor sama banyak perusahaan nggak dapat-dapat, ternyata pas dibor lebih dalam sedikit banyak minyaknya," tuturnya.
Rovicky menegaskan, jika ingin produksi minyak tambah banyak bahkan di atas 1 juta barel per hari, caranya hanya satu."Makin banyak ngebor," tutupnya.
(rrd/dnl)











































