"Paling bagus memang nggak ada subsidi (BBM) sama sekali," ujar Bambang di kantornya, Jakarta, Jumat (9/5/2014).
Belanja subsidi tahun ini mencapai Rp 333,7 triliun, dengan porsi terbesar adalah subsidi energi yaitu Rp 282,1 triliun. Meliputi BBM Rp 210,7 triliun dan listrik Rp 71,4 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan sampai anggaran kita tersandera oleh pengeluaran yang nggak bisa dikontrol. Kalau belanja tidak terkendali bisa bahaya untuk anggaran," jelasnya.
Bambang menambahkan, fokus pemerintah untuk saat ini adalah pengendalian volume konsumsi BBM bersubsidi yang dijatah 48 juta kiloliter (KL).
"Kita nggak mau volume 48 juta KL itu lewat. Itu dijaga supaya subsidi tidak berlebihan," tegasnya.
Namun, pemerintah masih bisa melakukan APBN-P untuk menyelamatkan anggaran. "Lihat nanti di APBN-P, semua bisa terjadi, perubahan-perubahan," kata Bambang.
Β
(mkl/hds)











































