Indonesia harusnya bisa menjaga cadangan energinya mulai dari minyak bumi, gas bumi hingga batu bara, untuk menjaga ketahanan energi dalam negeri dari krisis.
Sekretaris Satuan Kerja Khusus Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Gde Pradnyana mengatakan, Indonesia pernah menjadi eksportir gas terbesar di dunia, padahal cadangan gas Indonesia hanya 1,4% dari total cadangan dunia.
"Fakta yang ada, cadangan gas Indonesia tidak lebih dari 1,4% dari cadangan dunia. Tapi kita merasa kaya dengan cadangan gas, bahkan tahun 80-an kita pernah jadi eksportir gas terbesar dunia," kata Gde di Kahmi Center, Jakarta, Selasa (13/5/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konsumsi minyak dalam bentuk bahan bakar terus mengalami peningkatan dalam 10-15 tahun terakhir, dari semula hanya 700 juta barel per hari, sekarang 1,5 juta barel per hari.
"Konsumsi BBM (bahan bakar minyak) kita meningkat pesat seiring peningkatan kesejahteraan. Kita kan tidak bisa melarang masyarakat untuk membeli sepeda motor atau mobil. Sementara produksi dalam negeri tidak bisa mengejar konsumsi. Jadilah kita menjadi negara net importer minyak," kata dia.
Dengan kondisi tersebut, bukan mustahil Indonesia akan benar-benar mengalami krisis energi manakala tidak segera beralih ke sumber daya gas, yang seharusnya bisa menjadi sumber energi pengganti minyak yang makin menipis produksinya.
"Kini kita juga menjadi eksportir batubara terbesar di dunia. Saya khawatir Indonesia kembali melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang, yaitu menjual cadangan sumber daya alamnya ke luar. Padahal cadangan minyak, gas, maupun batubara kita itu ggak besar-besar amat," pungkas dia. (dnl/rrd)











































