"Listrik di Bangli di desanya sudah semua teraliri, kalau banjar masih ada sekitar 21 banjar yang belum teraliri listrik," kata Bupati Kabupaten Bangli, I Made Gianyar kepada detikFinance di Kantor Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Jakarta, Rabu (14/5/2014).
Giayar mengatakan, belum mendapatkannya aliran listrik 21 banjar tersebut, karenakan secara geografis jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya saling berjauhan. Sehingga dianggap tidak memiliki nilai ekonomis yang memadai untuk dilakukan pembukaan jaringan listrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masyarakat rumahnya jauh-jauh, itu kan sistem tempat tinggalnya jauh-jauh. Kita pernah ajak PLN masuk tapi itu tidak feasible sehingga diberikan listrik tenaga surya kan satu rumah satu panel," tutur dia.
Selain itu, ia ingin menjadikan Bangli sebagai wilayah penghasil energi baru terbarukan (EBTK). Karena daerahnya tersebut mengandalkan sektor pariwisata bagi pendapatan asli daerah.
"Kalau di Bangli agak jarang (mati lampu) dan gak boleh mati lampu. Kalau mati lampu wisatawannya bisa lari," kata ucapnya.
Langkah nyata yang dilakukan untuk mewujudkan ketahanan listrik di Bangli tersebut adalah dengan menjajaki sejumlah rencana pembangunan pembangkit listrik yang memanfaatkan sumber daya alam sekitar yang dapat diperbaharui.
"Bagaimana kita upayakan masyarakat kalau ada air di dekatnya air bisa jadi listrik. Ada angin di sekitarnya, angin bisa jadi listrik. Jadi kita ingin menjadikan Bangli itu sebagai wilayah penghasil energy baru terbarukan," tutup Giayar.
(rrd/rrd)











































