Upaya Pertamina ingin menguasai blok yang sudah dikelola 47 tahun atau hampir setengah abad tersebut tak mulus karena belum mendapat lampu hijau dari Kementerian ESDM.
Direktur Hulu Pertamina Muhammad Husein mengatakan Pertamina tidak ingin blok tersebut kembali diperpanjang pengelolaanya oleh perusahaan asing yang selama ini sudah mengelola blok tersebut selama hampir 50 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Blok Mahakam diperkirakan masih memiliki cadangan gas bumi terbukti sebanyak 2 triliun kaki kubik (TCF) setelah kontrak berakhir pada 2017.
"Tidak hanya segitu banyak sekali cadangannya. Kalau blok tersebut nggak bagus nggak bakal diperebutin, kalau nggak ada gasnya saya nggak bakal nangis bombay seperti ini untuk minta Blok Mahakam diberikan ke Pertamina, ngapain capek-capek," ucapnya.
Husein mengungkapkan, pengelolaan blok mahakam yang sampai saat ini masih menjadi pemasok gas terbesar di Indonesia, merupakan kesempatan besar. Alasannya disemua negara saat ini sangat membutuhkan energi dan mengandalkan BUMN-BUMN-nya.
"Ini kesempatan besar, kami siap lahir batin mengelola Blok Mahakam," ujarnya.
Keputusan siapa yang kembali mengelola suatu blok minyak normalnya diputuskan 5 tahun sebelum kontrak berakhir. Hal ini agar ada kepastian investasi dan persiapan bagi perusahaan yang ditunjuk untuk mengelola blok tersebut selanjutnya.
Dikutip dari situs SKK Migas, kontrak bagi hasil blok Mahakam ditandatangani tahun 1967, kemudian diperpanjang pada tahun 1997 untuk jangka waktu 20 tahun sampai tahun 2017. Kegiatan eksplorasi yang dilakukan pada tahun 1967 menemukan cadangan minyak dan gas bumi di Blok Mahakam tahun 1972 dalam jumlah yang cukup besar.
Masalah perpanjangan blok Mahakam sangat erat kaitannya dengan upaya untuk menjamin dan memaksimalkan penerimaan Negara. Seandainya pemerintah bermaksud memperpanjang kontrak blok Mahakam, maka pemerintah pasti akan meminta kenaikan bagi hasil yang lebih banyak lagi dari kontrak sebelumnya.
(rrd/hen)











































