Saat ini, Indonesia harus menyiapkan uang dolar sebanyak US$ 150 juta/hari hanya untuk impor bahan bakar minyak (BBM). Padahal pada masa lalu Indonesia pernah mengalami masa keemasan dalam hal produksi minyak dan sempat jadi negara eksportir minyak dunia.
Direktur Utama PT Pertamina EP (Persero) Adriansyah mengatakan, Indonesia pernah memproduksi minyak sebanyak 1,68 juta barel per hari (sekarangΒ 857.000 barel), sementara konsumsi BBM rakyat Indonesia hanya sekitar 300.000 barel per hari. Ini yang menyebabkan Indonesia masuk dalam organiasasi OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries).
"Itu terjadi pada 1977 (Indonesia menemukan minyak dari lapangan Minas dan Duri yang dikelola Chevron), produksi minyak dalam negeri mencapai 1,68 juta barel per hari," kata Adriansyah kepada detikFinance, Minggu (18/5/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini produksi minyak kita hanya 857.000 barel per hari dan terus turun. Sementara kebutuhan BBM nasional saat ini mencapai 1,5 juta barel per hari.
Akibat terus turunnya produksi minyak nasional ini, membuat Indonesia harus menggantungkan pada pasokan BBM dan minyak mentah dari impor.
"Sejak 2003 kita menjadi impor BBM, konsumsi kita terus naik produksi terus turun," tutupnya.
(rrd/hen)











































