General Electric Dorong RI Pakai Pembangkit Listrik Gas

General Electric Dorong RI Pakai Pembangkit Listrik Gas

- detikFinance
Senin, 19 Mei 2014 14:06 WIB
General Electric Dorong RI Pakai Pembangkit Listrik Gas
Jakarta - Perusahaan permesinan asing yaitu General Electric, mendorong Indonesia meningkatkan pemanfaatan gas dalam negeri untuk pembangkitan listrik. Karena lebih murah dari pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM).

Market Development Director GE Power and Water Made Wahyu Wiratama mengatakan, dorongan ini diberikan dengan pertimbangan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar dalam hal pengembangan industri yang berbasis pada pemanfaatan gas.

"Potensinya sangat tinggi, baik potensi kebutuhan, potensi resource. Kondisi pasar (Gas) masih sangat baru, harus didampingi dengan solusi yang tepat guna. Salah satunya bagaimana menghadirkan teknologi pembangkitan sekala kecil yang mendekati kebutuhan," kata Made di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (19/5/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sayangnya, saat ini pemanfaatan gas di Indonesia masih sangat minim dibandingkan dengan jumlah produksi gas itu sendiri. Bahkan bila melihat potensi cadangan yang tersedia, pemanfaatan gas di dalam negeri juga masih sangat minim.

Di sisi lain, kebutuhan listrik di Indonesia terus tumbuh seiring meningkatnya jumlah masyarakat kelas ekonomi menengah. Kebutuhan tersebut berbanding terbalik dengan ketersediaan listrik yang memadai.

Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang selama ini banyak diterapkan di tanah air pun tidak bisa memenuhi kebutuhan listrik, di samping permasalahan besarnya biaya bahan bakar yang harus dikeluarkan untuk pembangkit listrik jenis ini.

Menjawab tantangan tersebut, General Electric (GE) Power and Water dalam acara mertajuk State of Art Seminar menawarkan teknologi baru yang memungkinkan penyediaan energi listrik yang menggunakan bahan bakar seirit mungkin.

Teknologi tersebut diberi nama 'GE Salof' yakni sejenis mini LNG yang mampu menghasilkan energi listrik dengan kapasitas yang setara dengan rata-rata pembangkit listrik berbahan bakar diesel namun dengan biaya yang lebih murah.

"Dibanding diesel, kita bisa hemat 30%, malah kalau pasarnya sudah terbentuk bisa lebih besar lagi sampai 40%," tutur dia.

Secara rinci dirinya menjelaskan, bahwa teknologi barunya ini mampu menghasilkan 50-100 megawatt listrik perhari, yang dihasilkan dari pengolahan 10-20 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). "Jadi satu MMSCFD itu bisa menghasilkan 5 MW. Itu besar sekali. Sebanyak 5 MW itu sudah bisa mengaliri satu desa," terangnya.

Dalam penerapannya, teknologi ini nantinya akan disandingkan dengan fasilitas pengangkutan non pipa yang akan membawa gas dalam bentuk cair (LNG) dari sumber gas menuju lokasi pembangkitan.

Ada pun lokasi yang dipilih terutama adalah kwasan-kawasan industri dan komersial seperti pertambangan dan pemurnian (smelting) yang berada di wilayah Indonesia timur. Sayang, dirinya tidak merinci lokasi yang dimaksud.

"Kita pilih luar Jawa terutama Indonesia Timur. Kalau di Jawa dan bagian barat Indonesia itu kan sudah ada pipa (jaringan pipa gas). Nah kita ingin menerapkan di lokasi yang belum terjangkau pipa," ungkap dia.

Sementara, untuk target pasar sendiri pihaknya lebih mengutamakan pemasaran untuk sektor kawasan industri dan industri dengan kebutuhan listrik yang besar seperti pabrik pemurnian atau smelter.

Diakuinya, saat ini GE sendiri tengah menjajaki sejumlah kerja sama penyediaan teknologi terbaru ini diantaranya adalah sejumlah perusahaan penunjang pertambangan seperti smelter dan juga pemerintah dalam hal ini PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

"Kalau untuk residensial sepertinya nggak lah, kita akan masuknya (pembangkitan untuk hunian) lewat PLN. Kalau yang kita jajaki itu lebih yang ke kawasan industri, sama pabrik-pabrik fasilitas penunjang pertambangan seperti semelter," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jendral Minyak dan Gas (Dirjen Migas) kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Edy Hermantoro menyatakan dukungan yang positif terhadap penawaran tersebut.

"Rasio listrik hampir 80,5%, taget tahun 2020 harus mencapai 100% yang berarti kita harus memiliki gugus tugas kusus tidak hanya minyak dan gas tetapi juga listrik," ujar dia.

Penawaran yang dilakukan GE ini, lanjut Edy, juga dianggap sejalan dengan program pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan gas dalam negeri.

"Kami tidak hanya fokus pada minyak, tetapi juga gas. Kita punya 350 juta scf flaring gas yang belum dioptimalkan. Dan lain-lain, ini bagus untuk mendorong pemanfaatan itu," tuturnya.

(dnl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads