Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan mengharapkan, Natuna tidak bernasib seperti Blok Gas Donggi Senoro yang baru bisa berproduksi setelah 27 tahun.
"Kami memiliki Natuna. Saya berharap ini tidak bernasib sama dengan lapangan lainnya yaitu Donggi Senoro yang membutuhkan waktu 27 tahun baru bisa berproduksi," kata Karen di The 38th Indonesia Petroleum Association (IPA) Convex 2014, Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (22/5/2014).
Bila realisasi produksi di blok Natuna berjalan lamban, dikhawatirkan Pertamina sulit memenuhi target produksi migas 2,2 juta barel setara minyak per hari.
"Pertamina harus maju ke depan. Di tahun 2025 kita mengingikan mencapai produksi dari lapangan eksisting mencapai 2,2 juta barel setara minyak di 2025," tutur karen.
Benar saja, cadangan gas bumi di wilayah Kabupaten Natuna, Provinsi Kepri merupakan yang terbesar di Indonesia, melebihi cadangan gas yang dimiliki Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur.
Dengan jumlah cadangan gas yang demikian besar, masyarakat Indonesia akan memiliki alternatif sumber energi dan tidak perlu lagi bergantung bahan bakar minyak (BBM).
"Produksi minyak di Indonesia menurun tajam, sementara permintaannya tiap tahun meningkat, jadi ini anomali. Bagaimana caranya kita semua menghemat, mulai sekarang memutuskan bagaimana kita bisa diversivikasi energi. Karena Indonesia itu bukan produsen minyaik tapi produsen gas," tandasnya.
Sayangnya, saat ini realisasi produksi di Blok Gas Natuna masih terkendala. Di mana komposisi cadangan yang terkandung di Blok tersebut sebesar 70%-nya merupakan gas karbon (CO2).
Dengan komposisi tersebut diperlukan teknologi tinggi untuk dapat menginjeksi atau mengembalikan kandungan CO2 tersebut ke dalam perut bumi. Karena bila diambil dengan cara konvensional makan kandungan CO2 akan langsung lepas ke udara.
(dnl/dnl)











































