President & General Manager ConocoPhillips Indonesia Inc. Ltd. Erec S. Isaacson mengatakan, masa gas murah Indonesia sudah berlalu.
Ketersediaan gas murah yang sudah ditemukan, rata-rata telah memasuki masa produksi, dan sebagiannya sudah dikontrakkan produksinya oleh pembeli-pembeli asing.
Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dari 100% produksi gas nasional, konsumsi gas domestik mencapai 50,3% dan sisanya 49,7% diekspor.
Jadi, gas-gas murah yang telah ditemukan dulu, memang tidak sepenuhnya dinikmati oleh domestik. Tapi hampir setengahnya diekspor.
"Gas murah di Indonesia saudah berakhir. Semua gas murah di Indonesia sudah ditemukan, diproduksi, dan dikontrakkan," kata Erec pada acara The 38th Indonesia Petroleum Association (IPA) Convex 2014, di JCC, Jakarta, Kamis (22/5/2014).
Sekarang, cadangan-cadangan gas potensial di Indonesia berada pada lokasi yang sulit terjangkau. Sehingga butuh tenaga ahli dan teknologi yang lebih mahal.
"Sekarang, gas di Indonesia lebih sulit dan lebih mahal untuk didapat. Pencarian sumber baru menjadi lebih menantang dan membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk dikembangkan," kata Erec.
Di sisi lain, regulasi-regulasi yang ada di Indonesia menyangkut gas dianggapnya kurang berpihak pada upaya-upaya untuk menemukan lapangan gas baru.
"Proses perizinan di Indonesia sangat lama, rata-rata butuh 8-14 tahun untuk dari penemuan hingga ke proses produksi pertama kali. Jadi 6-12 bulan sertifikasi, 24-30 bulan untuk proses kontrak sampai disetujui, 6-12 bulan persetujuan transportasi, dan lain-lain," tuturnya.
Untuk itu, diperlukan langkah nyata dari pemerintah Indonesia, agar penemuan-penemuan lapangan gas baru dapat segera dilakukan. Dengan harapan, kebutuhan energi alternatif dalam hal ini gas bagi masyarakat Indonesia dapat terpenuhi.
Erec menyebutkan, sejumlah saran yang dapat dilakukan pemerintah agar hal tersebut dapat terwujud.
"Perpanjangan kontrak harus diputuskan lebih cepat. Tambahan insentif dan dukungan untuk pencarian lapangan baru di lokasi yang sulit," pungkasnya.
Di tempat yang sama Deputi Komersial Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan UsahaHulu Minyak dan Gas Bumi (SKK) Widhyawan Prawiraatmadja senada dengan Erec.
"Potensinya (gas) memang masih besar, tapi lama-lama makin kompleks (sulit) carinya," kata Widhyawan.
Untuk mengebor cadangan-cadangan gas baru di Indonesia saat ini bukan perkara mudah. Karena lokasi-lokasi baru yang memiliki cadangan gas potensial banyak terletak di laut dalam (deep water).
Untuk itu, diperlukan upaya yang lebih keras dalam memproduksi gas. "Cari gas yang gampang sudah habis, makanya sekarang mahal. Saat ini bagaimana kita harus tingkatkan produksi yang ada," kata dia.
Widhyawan juga mengatakan, SKK Migas akan mendorong pembangunan infrastruktur yang lebih banyak lagi, agar paoskan gas yang ada dari hasil produksi dalam negeri dapat dimanfaatkan lebih banyak lagi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Keseimbangan penggunaan gas memang sangat bergantung pada ketersediaan infrastruktur. Pasalnya, gas bukanlah energi seperti minyak yang dapat disimpan.
"Diprediksi permintaan gas akan masuk dalam penetrasi potensial dalam menggantikan minyak. Penggunaan gas akan menjadi alternatif (sumber energi yang murah)," tandasnya.
(dnl/dnl)











































