Bagaimana penjelasan Direktur Utama PLN Nur Pamudji soal kondisi listrik di Sumatera bagian Utara ini?
Nur mengakui, penyelesaian krisis listrik di wilayah Sumatera Bagian Utara ini bakal lama, karena sejumlah masalah. Paling cepat, akhir tahun masalah ini bisa terselesaikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada 2 pembangkit listrik yang setidaknya menjadi andalan untuk mengisi defisit listrik di Sumatera Utara, yaitu PLTU Nagan Raya 2 x 95 megawatt (MW) dan PLTU Pangkalan Susu 2 x 200 MW. Kedua PLTU ini menjadi perhatian Presiden SBY untuk cepat diselesaikan.
Nur mengatakan, selain kedua PLTU ini, ada masalah lagi yang mengganggu defisit listrik di Sumatera Utara. Masalah itu adalah disitanya flame tube atau ruang pembakaran untuk gas turbin PLTU Belawan. Nur menyesalkan kasus ini.
"Flame tube ini dibeli 2007 dan datang 2008, dipasang Oktober 2012 karena yang lama sudah berlubang dan rusak. Namun ada kasus hukum yang menimpa, sehingga ketua panitia pengadaannya divonis hakim 8 tahun penjara, karena dinilai tidak menggunakan Keppres 80 tahun 2013 soal pengadaan barang untuk pemerintah. Padahal PLN tidak pernah menggunakan Keppres tersebut, dan proses pengadilan tetap berjalan. Sampai sekarang flame tube ini disita pengadilan, meski vonis sudah ditetapkan," papar Nur saat ditemui di Hotel Ambhara, Jakarta, Rabu lalu (30/5/2014).
Padahal, bila flame tube ini bisa digunakan untuk memperbaiki gas turbin di PLTU Belawan, maka krisis listrik bisa teratasi. Dan Presiden SBY sudah meminta kasus ini diselesaikan, namun tak kunjung terlaksana juga.
"Sumatera Utara defisit 200 MW, dan gas turbin ini bisa membantu pasokan 190 MW, jadi defisit tersisa 5%. Ini bisa mengurangi pederitaan masyarakat Sumut," ujar Nur.
Kondisi ini bisa menjadi PR bagi presiden baru untuk diselesaikan, sehingga masalah kelistrikan di Sumatera khususnya bagian utara bisa dibereskan.
(dnl/ang)











































