Direktur Utama PLN Nur Pamudji mengatakan, teknologi PLTN memang sudah sangat berkembang di sejumlah negara saat ini. Tapi untuk Indonesia, menurut Nur, bila ingin mengembangkan PLTN tidak boleh tanggung-tanggung.
"Kalau mau kembangkan nuklir jangan tanggung-tanggung, kembangkan juga bahan bakarnya, agar ada ketahanan energinya," ujar Nur saat ditemui di Hotel Ambhara, Jakarta, Rabu lalu (28/5/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi bahan bakar harus aman. Makanya saat ini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) aman, karena Indonesia punya batubara," jelas Nur.
Nuklir memang bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi nuklir mengandung sisi negatif, sebagai bahan pembuat senjata pemusnah massal. Dunia menjadi saksi bagaimana dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, luluh lantak akibat hantaman senjata nuklir Amerika Serikat pada Perang Dunia II.
Namun di sisi lain, nuklir bisa menjadi penyelamat kehidupan manusia. Nuklir merupakan salah satu sumber energi yang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Di tengah ancaman semakin menipisnya sumber energi fosil, nuklir adalah alternatif.
Penggunaan tenaga nuklir untuk pembangkit listrik dimulai di AS pada 1942. Kemudian pada 1950-an mulai merambah ke Eropa, seperti Inggris dan Uni Soviet (sekarang Rusia). Pembangkit listrik tenaga nuklir merupakan antitesis atas keprihatinan penyalahgunaan nuklir untuk kepentingan perang.
Di sejumlah negara, nuklir sudah dimanfaatkan sebagai sumber energi pembangkit tenaga listrik. Misalnya di Jepang, sekitar 40 persen pasokan listrik berasal dari pembangkit tenaga nuklir. Sementara di Amerika Serikat, sekitar 20 persen pasokan listrik berasal dari 100 situs pembangkit tenaga nuklir.
Indonesia sendiri belum memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Dalam Peraturan Pemerintah tentang Kebijakan Energi Nasional, nuklir masih menjadi pilihan terakhir jika seluruh sumber energi terbarukan tidak memadai.
Padahal, Indonesia membutuhkan pembangkit listrik yang bisa diandalkan. Secara nasional, rasio elektrifikasi di Indonesia adalah 80%. Namun di sejumlah daerah rasio tersebut masih cukup minim, seperti di Papua yang hanya 36,4%.
Dikutip dari situs resmi Batan, harga listrik hasil Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dihargai 3,7-5 sen dolar Amerika Serikat. Sementara dari gas 5,8-7,2 cen dolar AS, batubara 3,5-5,2 sen dolar AS, angin 7,4 sen dolar AS, dan panas bumi 9 sen dolar AS.
Kemudian, ongkos produksi listrik di PLN juga semakin lama akan semakin turun karena sebagian besar biaya dikeluarkan pada saat pembangunan konstruksi. Ongkos bahan bakar PLTN hanya sekitar 10 persen dari seluruh biaya pembangkitan, sedangkan pembangkit bertenaga batubara dan minyak bisa mencapai 60 persen. Hal ini karena penggunaan bahan bakar PLTN sangat efisien dan harganya cukup stabil, tidak seperti minyak dan batubara.
Menurut kajian Batan, teknologi PLTN saat ini bisa mencapai daya listrik hingga 1.600 MWe per unit, hal yang tidak mungkin dimiliki oleh teknologi pembangkit lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan listrik yang besar dengan pertumbuhan mencapai 9 persen per tahun, hanya diperlukan membangun beberapa unit PLTN.
(dnl/ang)











































