Dolar Rp 11.700, Cicilan Utang PLN Rp 51 Triliun/Tahun

Dolar Rp 11.700, Cicilan Utang PLN Rp 51 Triliun/Tahun

- detikFinance
Jumat, 30 Mei 2014 11:54 WIB
Dolar Rp 11.700, Cicilan Utang PLN Rp 51 Triliun/Tahun
Jakarta - Kondisi nilai tukar rupiah yang tak kunjung menguat dan meleset dari perhitungan APBN 2014 membuat anggaran pemerintah melonjak. PLN pun ikut-ikutan merana akibat kondisi ini.

Dalam perhitungan APBN 2014, dolar dipatok Rp 10.500, tapi ternyata realisasi rata-rata sampai saat ini adalah Rp 11.700. Lantas, cicilan utang yang harus dibayar PLN ikut melonjak, karena hampir seluruh utangnya ditarik dalam bentuk dolar AS.

"Kurs ini pengaruhnya ke PLN besar sekali. PLN itu penerimaannya dalam rupiah, tapi pengeluarannya dalam dolar. Contoh saja pertama batu bara, kita mengikuti harga batu bara acuan (HBA) yang patokannya dolar," kata Nur saat ditemui di Hotel Ambhara, Jakarta, Rabu lalu (28/5/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Semua referensi energi dan komponen listrik yang digunakan PLN kebanyakan memang mengacu pada dolar AS. Demikian juga dengan pembelian listrik PLN dari pembangkit listrik milik swasta.

Kondisi dolar AS yang menguat terhadap rupiah, paling signifikan berpengaruh kepada cicilan utang yang harus dibayar oleh PLN.

Nur mengisahkan, jumlah cicilan pokok dan bunga utang yang harus dibayar PLN dengan kurs dolar Rp 11.700 adalah Rp 51 triliun per tahun. Sementara pendapatan PLN per bulan adalah Rp 15 triliun, jadi dalam setahun pendapatan BUMN listrik ini adalah Rp 180 triliun.

"Selama kira-kira 8 tahun terakhir, semua pembangunan PLN praktis dari pinjaman, Kita bisa menambah 5 ribu megawatt (MW) semuanya dari utang. Ada sih dari dana PLN sendiri, tapi dominan utang. Tapi utang ini ada untung dan ruginya, tidak selalu buruk. Dengan utang bisa menambah kapasitas listrik dan mengimbangi pertumbuhan ekonomi," ujar Nur.

PLN saat ini memang tengah meminta pemerintah untuk menambah anggaran subsidi listrik dari sekitar Rp 74 triliun menjadi Rp 115 triliun, meskipun hitungan Kementerian Keuangan dalam naskah APBN Perubahan 2014, subsidi listrik hanya ditambah menjadi Rp 107 triliun.

Nur mengakui, pihaknya memahami kesulitan fiskal yang saat ini dialami oleh pemerintah, ini terutama karena tekanan kurs yang terjadi. PLN juga menyatakan siap untuk menyesuaikan diri dengan kemampuan pemerintah membiayai subsidi listrik, yang dananya akan dipakai PLN untuk melakukan investasi kelistrikan.

"Investasi ini, artinya melayani pelanggan baru. Tahun lalu ada 4,2 juta pelanggan baru dengan rasio elektrifikasi menjadi 80%. Lima tahun lalu belum sampai 70%," kata Nur.

Penambahan pelanggan baru yang dilakukan PLN memang luar biasa, bahkan 4,2 juta pelanggan baru tahun lalu merupakan yang terbesar dalam sejarah. Program penambahan 1 juta sambungan baru di 2010 saat PLN dipimpin oleh Dahlan Iskan, ujar Nur, membuat bola salju. Penambahan pelanggan baru PLN jadi makin banyak. Namun sekali lagi, ini butuh investasi, karena menambah pelanggan berarti ada kabel, trafo, atau meteran yang harus dibeli oleh PLN.

Kondisi seretnya dana investasi ini, dan belum pastinya nilai penambahan subsidi listrik dalam APBN-P 2014 membuat PLN menahan penyambungan untuk pelanggan baru di sektor industri.

"Ada lagi pelanggan tegangan tinggi. Ada 4 pabrik Semen yang komitmen bangun, minta listrik ke PLN, harus investasi besar. Pabrik baja yang juga mau minta listrik ke PLN harus dilayani," kata Nur.

Belum lagi, pelanggan-pelanggan yang meminta tambahan daya listrik. Sampai saat ini belum bisa dilayani PLN karena masih menunggu kepastian berapa subsidi listrik yang akan diberikan dalam APBN-P 2014.

Tak hanya penyambungan listrik untuk pelanggan baru. Nur mengatakan, dana investasi dari subsidi listrik ini juga diperlukan untuk membangun jaringan yang bisa mengaliri listrik dari pembangkit listrik milik swasta, yang listriknya dibeli oleh PLN.

"PLN tahun ini memerlukan Rp 115 triliun kebutuhan untuk investasi," kata Nur.

Belum sampai di situ, PLN juga memiliki perjanjian kepada pemberi utangnya sebagai syarat bahwa perusahaan ini masih mampu membayar utang-utangnya. Nur bercerita, setiap 13 Desember atau akhir tahun, jumlah kas di PLN harus 1,5 kali dari cicilan utang yang dibayarnya pada tahun tersebut.

Jadi misalkan tahun ini PLN harus menyicil pokok dan bunga utang Rp 51 triliun, maka kas PLN di akhir tahun harus mencapai sekitar Rp 76 triliun. Bila ini tidak dipenuhi, PLN dianggap tidak memiliki kemampuan untuk membayar utang, dan akibatnya fatal.

"Tapi kas itu bukan uang mati, itu hanya menunjukkan PLN punya kemampuan kas, dan kas ini bisa digunakan untuk membiayai PLN," imbuh Nur.

Pada Januari-Mei 2014 ini, Nur mengatakan, PLN sudah menyambungkan listrik kepada 1,48 juta pelanggan baru. Targetnya ada 3,4 juta pelanggan baru yang dilayani PLN tahun ini. Namun melihat perkembangan hingga Mei, tampaknya target tersebut akan terlampaui jauh. Namun sekali lagi, PLN butuh investasi.

Menurut Nur, bila dana subsidi listrik Rp 115 triliun tahun ini tidak terpenuhi, maka akan investasi yang tertunda dan ini akan menjadi persoalan menumpuk di tahun depan. Karena itu, PLN terus mencoba meyakinkan pemerintah bahwa pembangunan investasi kelistrikan ini harus segera dilakukan, sehingga tidak menjadi kerugian ekonomi secara nasional.

(dnl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads