Pengusaha Ini Sebut Tarif Listrik RI Masih Murah, Wajar Kalau Naik

Pengusaha Ini Sebut Tarif Listrik RI Masih Murah, Wajar Kalau Naik

- detikFinance
Rabu, 04 Jun 2014 15:58 WIB
Pengusaha Ini Sebut Tarif Listrik RI Masih Murah, Wajar Kalau Naik
Jakarta -

Pemerintah berencana kembali menaikkan tarif listrik untuk industri pada Juli mendatang. Salah satunya adalah kepada industri golongan I-3 non perusahaan publik (Tbk).

Rachmat Gobel, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Infrastruktur, menilai pada dasarnya tarif listrik di Indonesia masih murah. "Memang masih ada yang lebih murah dari kita, tapi listrik kita salah satu yang termurah. Kalau bilang setuju atau tidak setuju tarif listrik untuk industri naik, jawabannya tidak ada pilihan. Tarif listrik harus naik," tegasnya saat ditemui di acara The 3rd EBTKE-ConEx 2014, Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (4/6/2014).

Jika pengusaha merasa biaya produksi mahal, lanjut Rachmat, itu bukan hanya karena tarif listrik. "Mengapa masih mahal produksi barang, karena kebijakan pemerintah sendiri. Produk impor lebih murah 2 kali lipat dibandingkan produksi dalam negeri," tuturnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rahmat mengungkapkan, sebenarnya semua pengusaha mengetahui kondisi keuangan negara saat ini. Subsidi listrik dan bahan bakar minyak (BBM) jebol, sementara penerimaan negara malah turun.

"Jadi nggak ada pilihan. Suka tidak suka terima kenaikan tarif listrik ini," ujar Rachmat, yang saat ini juga menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Panasonic Gobel Indonesia.

Seperti diketahui, pemerintah berencana untuk menaikkan tarif listrik golongan tertentu pada Juli mendatang. Ada 6 golongan yang tarif listriknya akan naik.

Pertama adalah industri I-3 non perusahaan terbuka. Langkah ini diyakini bisa menghemat anggaran Rp 4,8 triliun.

Kedua adalah rumah tangga R-1 dengan daya 3.500-5.500 VA dengan rata-rata kenaikan sebesar 5,7% tiap 2 bulan. Diperkirakan akan menghemat Rp 0,37 triliun.

Ketiga adalah sektor rumah tangga R1 dengan daya 2.200 VA, rata-rata kenaikan sebesar 10,43%. Penghematan yang didapat sekitar Rp 1 triliun.

Keempat adalah rumah tangga R1 dengan daya 1.300 VA. Kenaikannya 11,36% per 2 bulan, dengan penghematan Rp 1,84 triliun.

Kelima adalah untuk P-2 di atas 200 KVA dengan kenaikan rata-rata sebesar 5,36% setiap 2 bulan. Kenaikan ini akan menghemat Rp 0,10 triliun.

Keenam adalah penerangan jalan umum P-3 dengan rata-rata kenaikan sebesar 10,69%. Diperkirakan akan menghemat Rp 0,43 triliun.

(rrd/hds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads