Ini Pekerjaan Rumah Bidang Energi untuk Presiden Baru

Ini Pekerjaan Rumah Bidang Energi untuk Presiden Baru

- detikFinance
Rabu, 04 Jun 2014 20:58 WIB
Ini Pekerjaan Rumah Bidang Energi untuk Presiden Baru
Jakarta - Indonesia masih mengalami banyak masalah di bidang energi yang belum terselesaikan dan menjadi pekerjaan rumah untuk pemerintahan baru. Misalnya krisis pasokan listrik di berbagai daerah, produksi minyak mentah yang terus turun, dan persoalan subsidi BBM.

"Pemerintah baru akan menerima warisan agak parah dari pemerintah sekarang yaitu subsidi BBM, krisis listrik, sektor minyak bumi lemah, dan investasi migas tidak menarik, kita salah satu yang tidak menarik di dunia," kata Pakar Energi Ari Soemarno saat acara Pemaparan Platform Ekonomi Jokowi-JK, di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (4/6/2014).

Ia menjelaskan, saat ini masih banyak pemadaman listrik di berbagai wilayah Indonesia. Pada tahun 2015 pemadaman listrik diperkirakan makin akan sering terjadi karena infrastruktur sektor kelistrikan Indonesia lambat dibangun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Persoalan subsidi BBM yang sangat besar juga menjadi masalah pelik lainnya. Produksi minyak mentah Indonesia terus menurun sehingga tidak mampu menopang kebutuhan di dalam negeri yang trennya naik, sehingga harus impor BBM dalam jumlah besar.

"Pemadaman listrik di 2015 akan lebih banyak. BBM lemah, produksi terus menurun. Lifting minyak tinggal 820 ribu barel per hari, ini paling rendah. Impor BBM meningkat. Mudah dimainkan oleh pasar dan berbagai kepentingan," katanya.

Beberapa hal harus dipersiapkan pemerintahan baru yaitu penanggulan subsidi BBM, yaitu solusinya dengan menaikkan harga BBM sekaligus atau bertahap.

"Dengan pemahaman subsidi tetap diberikan kepada yang membutuhkan," katanya.

Hal lainnya adalah meningkatkan keandalan penggunaan energi. "Kita harus segera menyelesaikan pembangunan 23 Giga watt, konversi energi," ujarnya.

Ari mengatakan, pemerintahan baru juga perlu meningkatkan iklim investasi yang kondusif di Indonesia. Kebutuhan investasi di sektor energi Indonesia mencapai US$ 425 miliar bidang kelistrikan dan perminyakan.

"Perlu reformasi sektor hulu migas karena iklim sekarang tidak kondusif, birokratif, koruptif, oleh karena itu perlu pembaharuan sistem dan fiskalnya. Ini perlu revolusi mental. Kita perlu mengubah mindset, dibutuhkan untuk energi kalau nggak ada di negara sendiri ya cari di negara lain," tandasnya.

(drk/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads