"Permintaan energi seperti minyak, gas dan listrik di negara demokrasi sangat besar. Inilah yang menjadi tekanan dan tanggung jawab yang cukup besar bagi institusi di negara tersebut," kata Lutfi saat berdiskusi soal energi di Gedung Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Kamis (5/06/2014).
Lutfi mencontohkan di Amerika Serikat. Ketika Barack Obama terpilih menjadi presiden, dia harus berkomitmen kepada 58 juta orang yang memilihnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komitmen para presiden di negara-negara demokrasi, lanjut Lutfi, adalah mencukupi setiap kebutuhan rakyatnya termasuk energi. Inilah yang menyebabkan permintaan energi begitu tinggi.
Untuk menekan penggunaan energi fosil, pemerintah dapat menggunakan energi atau bahan bakar tepat guna dan berkelanjutan seperti crude palm oil (CPO).
Dijelaskan Lutfi, pada 2050, populasi dunia akan meningkat menjadi 9,5 miliar jiwa. Nantinya konsumsi minyak akan meningkat 5 juta ton per tahun di mana 31% berasal dari minyak sawit.
Menurut Lutfi, dilihat dari produktivitasnya, minyak sawit merupakan alternatif yang paling efisien karena dapat menghasilkan 5 ton per hektar dibandingkan yang lain.
"Komitmen kami untuk menggunakan energi berkelanjutan itu ada, yaitu menggunakan biodiesel. Sekarang bagaimana mengubah pikiran kita menggunakan energi berkelanjutan itu," katanya.
Lutfi mengatakan, pemerintah Indonesia telah mempunyai program pewajiban penggunaan bahan bakar nabati. Sebanyak 10% biodiesel akan dicampurkan ke dalam bahan bakar jenis solar.
"Kami punya program biodiesel 10%, dan komitmen kami untuk menyukseskan program tersebut," tuturnya.
Β
(wij/hds)











































