Ini Data dan Fakta Penyelundupan Minyak ke Malaysia

Ini Data dan Fakta Penyelundupan Minyak ke Malaysia

- detikFinance
Sabtu, 07 Jun 2014 13:42 WIB
Ini Data dan Fakta Penyelundupan Minyak ke Malaysia
ilustrasi
Jakarta - Produksi minyak Indonesia terus merosot, bahkan tahun ini hanya mampu mencapai maksimal 818.000 barel per hari. Dampaknya Indonesia harus impor minyak mentah dan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang per bulan bisa mencapai Rp 23 triliun.

Ironisnya, di tengah merosotnya produksi minyak nasional masih ada yang tega menyelundupkan minyak mentah ke negara tetangga seperti Malaysia. Seperti yang terjadi pada 3 Juni 2014 lalu, Bea Cukai Tanjung Balai Karimun berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 60.000 metrik ton minyak mentah.

Pelakunya adalah nahkoda Kapal MT Jelita Bangsa, kapal yang digunakan adalah kapal yang disewa oleh PT Pertamina. Berikut data dan fakta upaya penyelundupan tersebut yang dihimpun detikFinance, Sabtu (7/6/2014).



ilustrasi

1. Minyak Mentah dari Chevron Dumai

Kapal yang diangkutΒ  MT Jelita Bangsa berasa dari Lapangan Duri milik Chevron Pacifik Indonesia di Dumai, Riau.

Kapal tersebut pada 2 Juni 2014 sekitar pukul 09.00Β  berangkat dari Pelabuhan Dumai dengan membawa minyak mentah yang dibeli dari Chevron sebanyak 402.955 barel.

1. Minyak Mentah dari Chevron Dumai

Kapal yang diangkutΒ  MT Jelita Bangsa berasa dari Lapangan Duri milik Chevron Pacifik Indonesia di Dumai, Riau.

Kapal tersebut pada 2 Juni 2014 sekitar pukul 09.00Β  berangkat dari Pelabuhan Dumai dengan membawa minyak mentah yang dibeli dari Chevron sebanyak 402.955 barel.

2. Tertangkap Tangan

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Bea Cukai, kapal yang ditangkap bernama MT Jelita Bangsa dengan bendera Indonesia.

Kapal ini menyelundupkan minyak mentah yang berasal dari sumur milik Chevron Pacific Indonesia di Dumai. Seharusnya, kapal tanker tersebut mengirimkan minyak mentah ke kilang Pertamina di Balongan, Jawa Barat. Minyak ini telah menjadi milik Pertamina. Namun, ternyata kapal tersebut malah dikirim ke sebuah kapal bernama MT Ocean Maju.

Menurut Bea Cukai, MT Jelita Bangsa merupakan kapal dengan panjang 232 meter yang disewa oleh PT Pertamina (Persero). Kapal ini dimiliki oleh PT Trade Maritim Tbk (TRAM). Kapal ini membawa 59.507,66 metrik ton minyak mentah. Pada saat ditangkap, minyak yang ditransfer ke MT Ocean Maju telah mencapai 800 metrik ton.

Sementara untuk MT Ocean Maju ini menurut Bea Cukai tidak terdaftar. Potensi kerugian dari minyak yang diselundupkan MT Jelita Bangsa mencapai Rp 450 miliar. Dan ini berimplikasi pada berkurangnya pasokan bahan baku BBM dalam negeri.

Ada 2 orang tersangka yang diamankan, yaitu nakhoda dan mualim MT Jelita Bangsa, serta nakhoda dan bungker clark MT Ocean Maju. Penyelidikan ini masih berjalan.

2. Tertangkap Tangan

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Bea Cukai, kapal yang ditangkap bernama MT Jelita Bangsa dengan bendera Indonesia.

Kapal ini menyelundupkan minyak mentah yang berasal dari sumur milik Chevron Pacific Indonesia di Dumai. Seharusnya, kapal tanker tersebut mengirimkan minyak mentah ke kilang Pertamina di Balongan, Jawa Barat. Minyak ini telah menjadi milik Pertamina. Namun, ternyata kapal tersebut malah dikirim ke sebuah kapal bernama MT Ocean Maju.

Menurut Bea Cukai, MT Jelita Bangsa merupakan kapal dengan panjang 232 meter yang disewa oleh PT Pertamina (Persero). Kapal ini dimiliki oleh PT Trade Maritim Tbk (TRAM). Kapal ini membawa 59.507,66 metrik ton minyak mentah. Pada saat ditangkap, minyak yang ditransfer ke MT Ocean Maju telah mencapai 800 metrik ton.

Sementara untuk MT Ocean Maju ini menurut Bea Cukai tidak terdaftar. Potensi kerugian dari minyak yang diselundupkan MT Jelita Bangsa mencapai Rp 450 miliar. Dan ini berimplikasi pada berkurangnya pasokan bahan baku BBM dalam negeri.

Ada 2 orang tersangka yang diamankan, yaitu nakhoda dan mualim MT Jelita Bangsa, serta nakhoda dan bungker clark MT Ocean Maju. Penyelidikan ini masih berjalan.

3. Terbesar Dalam Sejarah

ilustrasi
Digagalkannya upaya penyelundupan minyak mentah tersebut sebanyak 59.507,66 metrik ton oleh aparat Bea Cukai, membuat jumlah tangkapan tersebut paling besar dalam sejarah penangkapan kapal penyelundup minyak mentah.

Kapusdik Reskrim Polri Kombes Pol Alex Sampe mengungkapkan, penangkapan kapal MT Jelita Bangsa tersebut merupakan yang paling besar jumlahnya selama republik Indonesia berdiri.

Kapal ini, tertangkapnya pada Selasa 3 Juni 2014 di pagi buta saat melakukan transaksi dan transfer minyak mentah ke kapal MT Ocean Maju.

3. Terbesar Dalam Sejarah

ilustrasi
Digagalkannya upaya penyelundupan minyak mentah tersebut sebanyak 59.507,66 metrik ton oleh aparat Bea Cukai, membuat jumlah tangkapan tersebut paling besar dalam sejarah penangkapan kapal penyelundup minyak mentah.

Kapusdik Reskrim Polri Kombes Pol Alex Sampe mengungkapkan, penangkapan kapal MT Jelita Bangsa tersebut merupakan yang paling besar jumlahnya selama republik Indonesia berdiri.

Kapal ini, tertangkapnya pada Selasa 3 Juni 2014 di pagi buta saat melakukan transaksi dan transfer minyak mentah ke kapal MT Ocean Maju.

4. Diselundupkan ke Malaysia

Kapal tersebut diduga akan menyelundupkan minyak mentah dan BBM ke Malaysia. Lokasi penangkapanΒ  di perairan Karimun, Kepulauan Riau.

"Kita menahan Kapal MT Jelita Bangsa dengan bendera Indonesia. Saat itu kapal tersebut bermuatan minyak mentah dengan jumlah kurang lebih 59.888 metrik ton," ungkap Kapusdik Reskrim Polri Kombes Pol Alex Sampe dalam pesan singkatnya kepada detikFinance, Rabu (4/6/2014).

Alex mengatakan, minyak mentah tersebut berasal dari sumur Chevron Dumai,yang akan dikirim ke kilang Balongan milik Pertamina."Muatan minyak mentah dari Chevron Dumai untuk PT Pertamina Balongan, tercantum dalam manifest," ujarnya.

Ia mengungkapkan, kapal MT Jelita tersebut harusnya mengirim minyak ke Balongan. Namun dalam perjalanan dibelokkan ke perairan Malaysia untuk diselundupkan ke Malaysia.

"Kapal itu ada GPS-nya, ternyata dia belok ke perairan Malaysia untuk diselundupkan ke Malaysia. Di perjalanan bertemu serta bernegosiasi dengan MT Ocean Maju dan dilakukan transfer secara ship to ship atau dikencingkan dari MT Jelita Bangsa ke MT Ocean Maju dengan jumlah kurang lebih 1.000 ton minyak mentah dan diakui asal cargo muatan dari MT Jelita Bangsa," ujarnya.

4. Diselundupkan ke Malaysia

Kapal tersebut diduga akan menyelundupkan minyak mentah dan BBM ke Malaysia. Lokasi penangkapanΒ  di perairan Karimun, Kepulauan Riau.

"Kita menahan Kapal MT Jelita Bangsa dengan bendera Indonesia. Saat itu kapal tersebut bermuatan minyak mentah dengan jumlah kurang lebih 59.888 metrik ton," ungkap Kapusdik Reskrim Polri Kombes Pol Alex Sampe dalam pesan singkatnya kepada detikFinance, Rabu (4/6/2014).

Alex mengatakan, minyak mentah tersebut berasal dari sumur Chevron Dumai,yang akan dikirim ke kilang Balongan milik Pertamina."Muatan minyak mentah dari Chevron Dumai untuk PT Pertamina Balongan, tercantum dalam manifest," ujarnya.

Ia mengungkapkan, kapal MT Jelita tersebut harusnya mengirim minyak ke Balongan. Namun dalam perjalanan dibelokkan ke perairan Malaysia untuk diselundupkan ke Malaysia.

"Kapal itu ada GPS-nya, ternyata dia belok ke perairan Malaysia untuk diselundupkan ke Malaysia. Di perjalanan bertemu serta bernegosiasi dengan MT Ocean Maju dan dilakukan transfer secara ship to ship atau dikencingkan dari MT Jelita Bangsa ke MT Ocean Maju dengan jumlah kurang lebih 1.000 ton minyak mentah dan diakui asal cargo muatan dari MT Jelita Bangsa," ujarnya.

5. Tanggapan Pertamina

Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan, minyak yang diselewengkan kapal tersebut merupakan minyak limbah (on board quantity), sisa pencucian tangki kapal yang bercampur air dan tersimpan dalam slop tank.

"Setelah kami klarifikasi kepada pemilik kapal, didapatkan irformasi berdasarkan pengakuan Perwira Senior MT Jelita Bangsa, bahwa minyak yang sudah dipindahkan dari MT Jelita Bangsa adalah limbah sisa pencucian kompartemen kapal yang masih mengandung sisa minyak. Jadi bukan kargo minyak mentah milik Pertamina dari Chevron Pacific Indonesia," ungkap Ali.

Ali mengatakan, pihaknya masih akan menunggu hasil verifikasi resmi dari surveyor independen yang ditunjuk oleh Bea Cukai, untuk memastikan kualitas dan kuantitas kargo Pertamina di kapal tersebut. Dia juga menegaskan, Pertamina sama sekali tidak mengalami kerugian dari peristiwa ini.

"Karena kontrak antara Pertamina dan pemilik kapal yang berlaku saat ini telah memagari secara tegas kewajiban pemilik kapal, untuk memastikan kargo Pertamina aman baik secara kualitas maupun kuantitas, hingga sampai di tempat tujuan pengiriman. Sehingga risiko apapun terkait dengan kedua hal tersebut menjadi tanggung jawab pemilik kapal," tutur Ali.

5. Tanggapan Pertamina

Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan, minyak yang diselewengkan kapal tersebut merupakan minyak limbah (on board quantity), sisa pencucian tangki kapal yang bercampur air dan tersimpan dalam slop tank.

"Setelah kami klarifikasi kepada pemilik kapal, didapatkan irformasi berdasarkan pengakuan Perwira Senior MT Jelita Bangsa, bahwa minyak yang sudah dipindahkan dari MT Jelita Bangsa adalah limbah sisa pencucian kompartemen kapal yang masih mengandung sisa minyak. Jadi bukan kargo minyak mentah milik Pertamina dari Chevron Pacific Indonesia," ungkap Ali.

Ali mengatakan, pihaknya masih akan menunggu hasil verifikasi resmi dari surveyor independen yang ditunjuk oleh Bea Cukai, untuk memastikan kualitas dan kuantitas kargo Pertamina di kapal tersebut. Dia juga menegaskan, Pertamina sama sekali tidak mengalami kerugian dari peristiwa ini.

"Karena kontrak antara Pertamina dan pemilik kapal yang berlaku saat ini telah memagari secara tegas kewajiban pemilik kapal, untuk memastikan kargo Pertamina aman baik secara kualitas maupun kuantitas, hingga sampai di tempat tujuan pengiriman. Sehingga risiko apapun terkait dengan kedua hal tersebut menjadi tanggung jawab pemilik kapal," tutur Ali.

Halaman 2 dari 12
(rrd/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads