Bulan lalu, pemerintah negara anggota OPEC ini mengingatkan, subsidi BBM yang dikucurkan saat ini membuat anggarannya defisit di 2017/2018. Saat ini anggaran negara tersebut masih surplus.
"Para menteri telah memutuskan secara prinsip untuk menghentikan subsidi solar," demikian pernyataan pemerintah Kuwait yang dilansir dari AFP, Selasa (10/6/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Perminyakan Kuwait Ali al-Omair telah mengatakan kepada parlemen 3 pekan lalu untuk menghentikan subsidi solar. Kebijakan ini bisa menghemat anggaran sekitar US$ 1 miliar atau sekitar Rp 10 triliun.
Harga solar di Kuwait dijual sekitar US$ 0,2/liter atau sekitar Rp 2.000/liter.
Rencana penghentian subsidi ini dilakukan karena harga komoditas minyak terus melonjak. Bahkan Menteri Keuangan Kuwait Anas al-Saleh mengatakan kepada parlemen, pertumbuhan konsumsi masyarakat per tahun mencapai 20,4%, sementara penerimaan negara hanya tumbuh 16,25% per tahun. Kementerian Keuangan telah mendesak perlunya pemangkasan subsidi.
Semenjak 2005-2013, nilai keseluruhan anggaran subsidi di Kuwait melonjak 4 kali lipat, dari US$ 4,1 miliar menjadi US$ 18 miliar, atau naik 23% per tahun.
Sementara pendapatan Kuwait dari minyak meningkat dari US$ 45,9 miliar di 2005 menjadi US$ 106 miliar pada tahun lalu.
Kementerian Keuangan Kuwait mengingatkan, bila harga minyak internasional terus berada di kisaran US$ 100 per barel, maka anggaran Kuwait akan defisit US$ 2,3 miliar pada 2017 atau 2018 nanti.
Bulan lalu, International Monetary Fund (IMF) telah mengingatkan Kuwait untuk mengurangi subsidi. Selain subsidi solar, subsidi listrik, air, dan bensin juga akan dikurangi.
Anggaran negara di Kuwait terus menerus surplus dalam 14 tahun terakhir.
(dnl/hds)











































